Menit ke-90 pertandingan Indonesia kontra Bangladesh, papan pergantian wasit keempat terangkat: hanya dua menit waktu tambahan. Di saat yang sama, Malaysia baru saja memastikan kemenangan telak 6-0 atas Singapura. Harimau Malaya sudah menginjakkan satu kaki di final. Komentator FIFA pun yakin partai puncak telah ditentukan: Malaysia versus Thailand.

Mereka salah besar.

Laga pamungkas ini memang hidup-mati bagi Garuda. Pasukan John Herdman tak cukup sekadar menang atas Bangladesh — mereka harus berpesta gol sambil berharap Singapura menahan Malaysia. Herdman menurunkan susunan terbaiknya: Calvin Verdonk dikembalikan ke bek sayap kiri, Rizky Ridho di bek tengah kanan agar Kevin Diks leluasa overlap, Joey Pelupessy dan Ivar Jenner berduet di tengah, serta trio Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan sang striker yang malam itu kesetanan.

Baru 11 menit, Indonesia unggul 1-0. Keran gol lalu mengalir deras: gol kedua menit ke-20, hattrick menit ke-37, dan gol keempat menit ke-42 sebelum turun minum. Ditambah gol Rizky Ridho dan satu gol lain, Indonesia menutup babak pertama dengan skor 6-1. Saat itu Malaysia "baru" unggul 2-0 atas Singapura. Garuda di atas angin.

Namun babak kedua menghadirkan kejanggalan — setidaknya menurut video ini. Para pemain Singapura disebut tampil tanpa ambisi mengejar ketertinggalan, dan Malaysia memberondong empat gol tambahan dengan mudahnya. Kiper Izwan Mahbud yang berusia 36 tahun dinilai tampil pasrah, termasuk saat gagal menepis sepakan Bergson da Silva yang tak terlalu keras. Malaysia menang 6-0. Di sisi lain, kiper Bangladesh justru tampil heroik dengan serangkaian penyelamatan krusial yang menggagalkan pesta gol Indonesia.

Menit ke-90, Indonesia unggul 7-1 dan butuh satu gol lagi untuk mengalahkan selisih gol Malaysia. Tapi Bangladesh justru mencetak gol kedua. Skor 7-2: Indonesia kini butuh dua gol, dengan waktu tambahan yang cuma dua menit. Mustahil? Anak-anak Herdman menolak menyerah.

Gol kedelapan lahir lewat sundulan Kevin Diks menyambut umpan lambung Verdonk. Lalu, setelah Emil Audero menggagalkan peluang Bangladesh, serangan balik kilat terjadi: Egy Maulana Vikri melepas bola kepada Ole Romeny yang mengirim assist manis — gol kelima sang striker tercipta. Indonesia menang 9-2 dan menyegel tiket final. Di Stadion Si Jalak Harupat, para pemain Malaysia yang sempat merayakan kemenangan hanya bisa terpaku: wajah sendu, marah, frustrasi, tak percaya.

Kontroversi pun meledak. Netizen Malaysia — didukung repost winger Arif Aiman — menuding Indonesia curang karena tambahan waktu berubah dari 2 menit menjadi 7 menit. Striker Malaysia Paulo Josue bahkan menyebarkan teori match fixing, tak percaya Indonesia bisa mencetak sembilan gol. Video ini membantahnya: wasit utama berhak memperpanjang tambahan waktu, dan ada alasan valid — pengecekan VAR dan keributan pemain di masa injury time. Akun @asian.football disebut ikut menjelaskan duduk perkaranya.

Sebaliknya, video ini justru mempertanyakan laga Malaysia versus Singapura. Bangladesh disebut bermain ngotot sepanjang 90 menit — bahkan sempat terlibat friksi dengan Ragnar Oratmangoen dan Shane Pattynama usai laga. "Coba bandingkan dengan Singapura. Sama sekali tak ada perlawanan berarti. Seolah Singapura sudah nggak peduli untuk menang," narasi video itu. Padahal, Singapura adalah tim level Piala Asia yang mestinya bisa mengimbangi Malaysia.

Peringatan Erick Thohir sebelum laga pun dikutip: Malaysia dan Singapura harus bermain fair, tidak boleh main mata.

Terlepas dari segala polemik, satu hal pasti: Indonesia ke final FIFA ASEAN Cup 2026 dan akan menantang Thailand. Trofi pertama dalam sejarah sepak bola Indonesia kini tinggal sejarak satu pertandingan.