Breaking
Memuat breaking news...

Dorong Ekonomi Sirkular, Pertamina Ajak Warga Dumai hingga Sorong Kelola Limbah Rumah Tangga

Qaplo
Qaplo
Minggu, 14 Juni 2026 - 2.30 PM WIB
Dorong Ekonomi Sirkular, Pertamina Ajak Warga Dumai hingga Sorong Kelola Limbah Rumah Tangga
Reading Comfort
adjust the font size

Qaplo.com (Dumai) - Pengelolaan sampah rumah tangga kini tidak lagi sekadar urusan membuang kotoran ke tempat pembuangan akhir. Di beberapa daerah di Indonesia, limbah dapur seperti minyak jelantah dan sisa makanan justru disulap menjadi barang bernilai ekonomi tinggi yang mampu menopang kesejahteraan warga setempat.

Melalui program Community Involvement & Development yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga, masyarakat di Dumai (Riau), Kasim (Papua Barat Daya), dan Makassar (Sulawesi Selatan) diajak aktif menerapkan konsep ekonomi sirkular. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi dampak buruk kerusakan lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat lokal.

Tukar Jelantah dengan Nutrisi Balita di Dumai

Di Kelurahan Tanjung Palas, Dumai, Riau, minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja kini memiliki nilai tukar yang bermanfaat bagi kesehatan keluarga. Melalui program Posyandu Sehati, ibu hamil dan balita bisa mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) hanya dengan menukarkan sisa minyak goreng bekas pakai tersebut.

Masih di wilayah yang sama, Kelompok Wirani Rejosari juga bergerak mengolah sampah organik rumah tangga menjadi Pupuk Cair Organik (PCO). Langkah ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang menumpuk di lingkungan pemukiman, tetapi juga membantu petani lokal mendapatkan pupuk ramah lingkungan dengan harga lebih terjangkau.

Siklus Saling Menguntungkan di Sorong, Papua Barat Daya

Bergeser ke wilayah timur Indonesia, tepatnya di Kampung Malabam, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Pertamina Patra Niaga Kilang Kasim menginisiasi program Mandiri, Optimal, dan Integrasi (MOI). Di sini, pengelolaan sampah organik melibatkan kolaborasi unik antara kelompok tani dan kelompok peternak.

Kelompok Tani Wahimu mengumpulkan sampah organik dari sisa makanan dan hasil panen sayuran untuk diolah menjadi pakan ternak babi milik Kelompok Ternak Kamisalun. Sebagai timbal balik, kotoran dari ternak babi tersebut diolah kembali menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang digunakan kembali oleh Kelompok Tani Wahimu untuk menyuburkan tanaman mereka. Siklus tertutup ini meminimalkan limbah terbuang sekaligus menekan biaya operasional kedua kelompok.

Kampung BERLIAN Makassar: Kurangi Sampah dan Hemat Energi

Sementara itu, di Kelurahan Tamalabba, Makassar, Integrated Terminal Makassar mengembangkan Program Kampung BERLIAN (Bersih, Ramah Lingkungan, Asri, dan Nyaman). Program ini menjadi solusi terpadu atas tingginya volume sampah rumah tangga di kawasan padat penduduk tersebut.

Warga diajarkan melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah, membudidayakan maggot di Tamalabba Organic Center (TOC), hingga mengelola bank sampah bernama Tasberlin. Selain itu, warga juga mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) dengan sistem hidroponik, aquaponik, dan budidaya ikan.

Hasilnya cukup signifikan. Kampung BERLIAN tercatat mampu mengurangi timbulan sampah rumah tangga hingga 6,7 ton per bulan dan memanfaatkan sekitar 4 liter minyak jelantah setiap bulannya. Sistem hidroponik di wilayah ini juga memanfaatkan energi surya, yang berhasil menghemat penggunaan listrik hingga 4.380 kWh.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa program-program ini dirancang untuk memberikan dampak nyata jangka panjang bagi masyarakat. Berdasarkan perhitungan Social Return on Investment (SROI), program di Makassar menghasilkan nilai 1,50. Artinya, setiap investasi sebesar Rp1 yang disalurkan perusahaan mampu menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan senilai Rp1,50 bagi warga setempat.

"Pengelolaan sampah yang baik bukan hanya menjadi solusi bagi kelestarian lingkungan, melainkan juga menjadi fondasi penting bagi kemandirian ekonomi masyarakat di masa depan," ujar Roberth dalam keterangan resminya.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait