Tebas Tak Mundur, Malah Bela Perbandingannya

Presiden LaLiga Javier Tebas menolak mundur dari jabatannya dan justru kembali membela pernyataannya yang membandingkan cara kerja media Real Madrid dengan teknik propaganda Nazi. Sikap keras ini ia sampaikan lewat media sosial X pada Sabtu (17/10/2026), sehari setelah Real Madrid menuntutnya segera mengundurkan diri.

Tebas menegaskan bahwa kritiknya tidak ditujukan kepada suporter Madrid, melainkan kepada strategi komunikasi yang dipakai Real Madrid TV dan para pembela klub. Menurutnya, cara kanal televisi milik klub itu menyajikan insiden wasit sudah berulang dan membentuk pola.

"Partiturnya selalu sama: pilih tayangan yang menguntungkan, ulangi keluhan, besarkan kecurigaan, lalu tunjuk musuh-musuhnya. Cara itu mengingatkan pada mekanisme propaganda yang dipakai Goebbels, menteri propaganda Jerman Nazi," tulis Tebas.

Tebas langsung melengkapi pernyataannya dengan klarifikasi bahwa perbandingan itu hanya soal teknik propaganda, bukan ideologi, dan bukan pula ditujukan kepada para Madridista.

Madrid Sebut Pernyataan Tebas "Memalukan Secara Moral"

Real Madrid tak tinggal diam. Klub raksasa Spanyol itu merilis pernyataan resmi yang menyebut komentar Tebas "sama sekali tidak dapat ditoleransi dan sangat serius". Madrid menuntut Tebas mundur bukan hanya dari kursi Presiden LaLiga, tetapi juga dari jabatan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF).

"Javier Tebas berulang kali menunjukkan kurangnya netralitas, rasa hormat, dan ketidakberpihakan yang tidak sesuai dengan tanggung jawab kelembagaannya," tulis pernyataan resmi Madrid.

Menurut Madrid, pernyataan Tebas "sangat menyinggung, menjijikkan secara moral, dan tidak pantas bagi sebuah institusi". Klub juga menilai Tebas kerap menjadikan mereka sasaran, bahkan memanfaatkan tulisan jurnalis yang tak terkait klub untuk menyerang Madrid.

Ini bukan tuntutan pertama. Pada September lalu Madrid juga menyerukan pergantian Presiden LaLiga setelah Tebas menyebut keluhan Madrid soal wasit sebagai "tabir asap" untuk menutupi kekurangan tim di lapangan.

Alasan Tebas: Teknik Propaganda Diajarkan di Kampus

Untuk memperkuat pembelaannya, Tebas mengangkat contoh nyata dari dunia pendidikan. Ia menyebut bahwa teknik propaganda semacam itu dipelajari secara resmi di fakultas jurnalistik.

"Contoh konkret: Universitas La Laguna. Di program sarjana jurnalistiknya, mata kuliah wajib tahun pertama Teori Umum Pesan Informatif memuat latihan ini dalam silabus 2025-2026: latihan penerapan 11 prinsip propaganda Goebbels ke masa kini," tulis Tebas.

Ia menegaskan bahwa membandingkan cara berkomunikasi tidak otomatis berarti menuduh seseorang menganut ideologi yang sama dengan orang yang pernah memakai cara itu. "Perbandingannya dengan teknik propaganda itu, bukan dengan sebuah ideologi, dan tentu bukan dengan suporter Real Madrid," katanya.

Tebas juga menantang Madrid untuk membuka data: berapa banyak permintaan perubahan jadwal pertandingan yang diajukan klub dan berapa yang dikabulkan LaLiga. Menurutnya, tuntutan mundur tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.

"Kemarahan tidak membantah tuduhan-tuduhan itu," tulis Tebas.

Perseteruan Lama yang Tak Kunjung Usai

Hubungan Tebas dengan presiden Real Madrid, Florentino Perez, memang sudah lama panas. Tebas menuding Madrid menjalankan "kampanye 13 tahun" untuk menyingkirkannya, mulai dari pengaduan ke Dewan Olahraga Tinggi Spanyol (CSD), gugatan pidana, hingga tuntutan mundur yang berulang.

"Ini punya nama: intimidasi. Membungkusnya dalam pernyataan resmi tidak mengubahnya menjadi regenerasi," tulis Tebas menanggapi tuntutan terbaru.

Ada pula kabar bahwa Dewan Olahraga Tinggi Spanyol tengah mempertimbangkan kemungkinan tindakan disipliner terhadap Tebas, meski belum ada keputusan resmi.

Di sisi lain, kritik terhadap Tebas juga datang dari pengamat. Sebagai presiden liga, Tebas memikul tanggung jawab menjaga kepercayaan terhadap kepemimpinan kompetisi. Persoalan wasit yang diangkat Madrid seharusnya dinilai dari meritnya, bukan berubah menjadi adu ego antara liga dan salah satu klub terbesarnya.

Tebas (64) memimpin LaLiga sejak 2013 dan terpilih kembali tanpa lawan pada 2023 dengan masa jabatan hingga 2027. Sementara Real Madrid adalah pemegang rekor 36 gelar liga Spanyol dan 15 gelar juara Eropa. Belum jelas bagaimana Madrid akan merespons pembelaan terbaru Tebas ini.

Sumber: Javier Tebas responds to Real Madrid’s resignation demand and defends controversial propaganda comparison — OneFootball