BEIJING — China diam-diam menekan Iran agar menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan aksi militer kelompok Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Langkah diplomasi pintu belakang ini diambil Beijing setelah Arab Saudi meminta bantuan akibat meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran dan ekspor minyak di kawasan tersebut.

Tiga sumber internal Iran membocorkan kepada Reuters bahwa pesan yang disampaikan Beijing secara tertutup jauh lebih keras ketimbang imbauan diplomatis yang dirilis ke publik. China tidak ingin eskalasi konflik mengganggu jalur pasokan energi global yang menjadi urat nadi perekonomiannya.

Meski begitu, Beijing dilaporkan tidak menyampaikan ancaman pemutus bantuan atau sanksi ekonomi jika Teheran menolak permintaan tersebut.

Dua Jalur Vital Terancam Lumpuh Kekhawatiran China bukan tanpa alasan. Sebagai pengimpor minyak terbesar di dunia, sekitar separuh pasokan mentah Beijing berasal dari Timur Tengah.

Situasi krisis kini berada di titik kritis:

  • Selat Hormuz: Jalur utama distribusi minyak Timur Tengah ini praktis lumpuh akibat blokade Iran.

  • Selat Bab el-Mandeb (Laut Merah): Gerakan cepat Houthi mengancam ujung maritim lainnya.

Jika kedua titik jepit (chokepoint) ini lumpuh bersamaan, krisis energi global dipastikan meledak. Posisi China sebagai sekutu utama Iran sekaligus mitra dagang terbesar negara-negara Arab Teluk—dengan nilai perdagangan mencapai US$300 miliar per tahun—menempatkan Beijing di posisi yang sangat serba salah.

Jawaban Teheran dan Batas Pengaruh Beijing Menanggapi desakan tersebut, pihak Teheran menyatakan bahwa stabilitas kawasan hanya bisa terwujud jika Amerika Serikat dan Israel menghentikan aksi militernya terhadap Iran. Teheran menegaskan bahwa pertimbangan strategis mereka tidak hanya didikte oleh Beijing.

Di atas kertas, China memiliki kartu truf ekonomi yang kuat. Data lembaga analisis Kpler menunjukkan China menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak maritim Iran pada 2025, atau setara 1,4 juta barel per hari. Beijing juga menjadi tumpuan utama investasi Teheran di tengah sanksi ekonomi Barat.

Namun, para pengamat menilai diplomasi China kini sedang diuji. Tanpa keberanian untuk memberikan konsekuensi nyata bagi Iran, imbauan tertutup dari Beijing berisiko hanya dianggap angin lalu oleh Teheran.