Ribuan demonstran kembali memenuhi dua alun-alun pusat di Portugal pada Selasa (20/10) untuk memprotes krisis perumahan yang kian parah, hanya beberapa jam setelah polisi membubarkan kemah protes mereka di Lisbon dan Porto serta menahan 55 orang.
Polisi melancarkan operasi terkoordinasi di kedua kota sesaat sebelum pukul 6 pagi, setelah sebelumnya memperingatkan para demonstran bahwa kemah mereka ilegal. Para aktivis telah menduduki Alun-alun Rossio di Lisbon sejak Sabtu dengan sekitar 200 tenda, dan Alun-alun Dom Joao I di Porto selama sekitar 10 hari.
Polisi Klaim Proporsional, Aktivis Sebut Agresif
Di Porto, para demonstran mengikuti perintah dan membongkar sendiri tenda mereka. Namun di Lisbon, pembersihan berlangsung tegang. Carla Valadao, juru bicara kemah Lisbon, menggambarkan operasi polisi sebagai sangat agresif.
Sebaliknya, Inspektur Polisi Keamanan Publik Sergio Soares menegaskan penggusuran berjalan tenang, proporsional, dan pantas, tanpa penyerbuan polisi. Ia menyebut 55 orang ditahan karena menolak meninggalkan area secara sukarela, dan dua orang mengalami luka ringan yang segera ditangani.
Ke-55 orang yang ditahan kemudian dibebaskan sambil menunggu sidang pengadilan di Lisbon pada Rabu.
Tuntut Cabut RUU Penggusuran
Para aktivis menuntut pemerintah kanan-tengah mencabut rancangan undang-undang yang mempermudah penggusuran dan menghapus batas sewa untuk kontrak baru. RUU tersebut telah lolos pembacaan pertama di parlemen.
"Jika orang tidak merasa betah, dalam setiap arti kata, mereka tidak bisa melanjutkan hidup mereka... sudah cukup," kata Debora Miranda, 41, konsultan komunikasi yang ikut aksi di Rossio.
Menurut panitia, lebih dari 1.000 orang berkumpul di masing-masing alun-alun. Pada Selasa malam, majelis rakyat di Lisbon bahkan memutuskan untuk kembali ke Rossio dan mendirikan tenda lagi pada Rabu.
Salah Satu Krisis Perumahan Terburuk di Eropa
Portugal tengah bergulat dengan salah satu krisis keterjangkauan perumahan terburuk di Eropa. Harga beli rumah telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak 2017, dan sewa untuk kontrak baru nyaris dua kali lipat.
"Ini krisis masyarakat," kata Jorge Paixao, 19, mahasiswa sejarah. Generasinya, kata dia, butuh kemampuan hidup bermartabat, berkeluarga, dan meremajakan Portugal.
Tekanan paling terasa di kota-kota besar, di mana warga juga memprotes pariwisata berlebihan dan membanjirnya para pekerja nomaden digital.
Sumber: Al Jazeera


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda