Breaking
Memuat breaking news...

Di Tengah Larangan Impor AS, China Pamer Ribuan Robot Humanoid di Beijing

Redaksi
Redaksi
Minggu, 23 Agustus 2026 - 7.17 AM WIB
Di Tengah Larangan Impor AS, China Pamer Ribuan Robot Humanoid di Beijing
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Sejumlah robot humanoid asal China berhasil memecahkan rekor atletik yang selama ini dipegang manusia, termasuk rekor lari 100 meter Usain Bolt dan rekor lompat tinggi Javier Sotomayor, pada hari pembukaan World Humanoid Robot Games di Beijing. Ajang bergaya Olimpiade ini digelar di tengah memanasnya ketegangan teknologi antara Amerika Serikat dan China.

Ajang Robot Terbesar dengan Lebih dari 2.000 Peserta

Menurut penyelenggara, lebih dari 2.000 robot humanoid ambil bagian dalam ajang lima hari yang kini memasuki tahun kedua penyelenggaraannya ini. Kompetisi tersebut menjadi ajang unjuk kemampuan China dalam pengembangan robotika canggih, di tengah persaingan teknologi yang kian ketat dengan Amerika Serikat. Total ada 51 cabang perlombaan dan lebih dari 1.000 pertandingan, mulai dari lari, tenis meja, hingga sepak bola.

Ajang ini digelar di National Speed Skating Oval, arena yang sebelumnya dibangun untuk Olimpiade Musim Dingin 2022. Pembukaannya bertepatan dengan pekan yang sama saat China menggelar World Robot Conference 2026, di mana sekitar 3.000 produk dipamerkan, termasuk berbagai robot humanoid.

Muncul di Tengah Ketegangan Dagang Teknologi AS-China

China selama ini memproduksi sebagian besar robot humanoid dunia, dan Amerika Serikat belakangan memperketat pengawasan terhadap produk-produk asal negara tersebut. Bulan lalu, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) mengumumkan larangan impor robot humanoid buatan luar negeri, dengan alasan keamanan nasional — kebijakan yang secara langsung menyasar produk asal China.

Kementerian Pertahanan AS bahkan memasukkan Unitree, salah satu produsen robot humanoid terkemuka China, ke dalam daftar perusahaan yang dinilai memiliki keterkaitan dengan militer China. Pemerintah Beijing sendiri telah membantah tuduhan tersebut.

Rekor Lari dan Lompat Tinggi Dipecahkan

Pada pembukaan Sabtu lalu, ratusan robot humanoid berbaris dalam formasi memasuki lapangan, menampilkan koordinasi gerak yang serentak dan terorganisir. Penyelenggara dan produsen robot menyebut sejumlah robot berhasil mengalahkan rekor dunia manusia dalam ajang ini.

Dalam nomor lari 100 meter, salah satu robot mencatatkan waktu 9,39 detik — lebih cepat dari rekor manusia 9,58 detik yang dipegang legenda asal Jamaika, Usain Bolt, sejak 2009. Sementara dalam nomor lompat tinggi berdiri, sebuah robot mampu mencapai ketinggian 2,88 meter, jauh melampaui capaian terbaik robot pada edisi pertama tahun lalu yang hanya 0,95 meter, sekaligus melewati rekor lompat tinggi manusia 2,45 meter milik atlet asal Kuba, Javier Sotomayor, yang telah bertahan sejak 1993. Kedua robot pemecah rekor tersebut merupakan buatan X-Humanoid, perusahaan yang bermarkas di Beijing.

Sebelum pembukaan resmi, robot humanoid buatan perusahaan smartphone asal China, Honor, bahkan telah lebih dulu mencatatkan waktu 9,32 detik dalam uji coba lari 100 meter, dengan kecepatan puncak mencapai 14,5 meter per detik, menurut keterangan perusahaan tersebut.

Masih Sebatas Demonstrasi, Belum untuk Penggunaan Massal

Para pakar menilai robot humanoid saat ini masih sebagian besar digunakan untuk keperluan demonstrasi, pertunjukan, dan riset. Penerapan robot humanoid secara luas dalam kehidupan sehari-hari, menurut mereka, masih membutuhkan waktu.

Meski begitu, sejumlah penonton mengaku terkesan dengan kemajuan pesat kemampuan robot-robot ini. Li Yanfeng, seorang pekerja di bidang pendidikan asal Beijing, mengaku sempat skeptis dan bahkan agak menolak kehadiran kecerdasan buatan karena khawatir teknologi ini akan menggantikan peran manusia. Namun kini ia menilai perkembangan tersebut sudah tak terbendung, sehingga ia memutuskan untuk datang langsung menyaksikannya.

Penonton lain, Yang Shangzheng, mengaku takjub karena cabang-cabang olahraga yang biasa dilakukan manusia kini bisa ditiru oleh robot. Sementara itu, Liu Tao yang menonton bersama putranya mengatakan ia datang dengan harapan bisa melihat langsung robot-robot terbaik yang dimiliki China saat ini.

Penyelenggara mencatat, ajang tahun ini diikuti 16 negara, termasuk Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat, dengan cabang tambahan berupa uji kekuatan seperti angkat beban dan tarik tambang.

Sumber: Associated Press (AP), dilaporkan oleh Ibrahim dan Chan dari Hong Kong, dengan kontribusi dari Olivia Zhang dan Liu Zheng.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait