Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung Sumatera dan Kalimantan ternyata bukan semata ulah alam. Di balik ratusan titik api yang terdeteksi satelit NASA hingga nyaris menutupi kedua pulau, ada tangan-tangan manusia yang sengaja membakar demi membuka lahan dengan murah.

Fakta itu terungkap setelah Bareskrim Polri menetapkan 72 orang sebagai tersangka kasus pembakaran hutan dan lahan. Penetapan tersangka diumumkan Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mohammad Irhamni, pada Minggu, 23 Agustus 2026.

89 laporan polisi di sembilan Polda

Penindakan berawal dari 89 laporan polisi yang tersebar di sembilan wilayah Polda: Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Aceh, dan Kalimantan Utara. Penyelidikan dilakukan setelah titik panas yang terpantau satelit diverifikasi di lapangan dan menunjukkan indikasi kesengajaan.

"Rata-rata modus operandi para tersangka adalah membuka lahan dengan cara sengaja membakar agar biaya operasional kegiatan berkebun menjadi murah atau ekonomis," ujar Irhamni.

Riau mencatat tersangka terbanyak dengan 35 orang dari 32 laporan polisi. Barang bukti yang diamankan antara lain korek api, jeriken berisi bahan bakar, parang, hingga bibit sawit — petunjuk bahwa lahan yang dibakar disiapkan untuk perkebunan.

El Nino dan gambut yang mengering

Fenomena El Nino dan kemarau panjang memang membuat lahan, khususnya gambut, mengering sehingga potensi kebakaran membesar. Namun kondisi kering itu justru dimanfaatkan para pelaku untuk membakar lahan dengan risiko api yang kian sulit dikendalikan.

Dampaknya tidak main-main. Seekor induk orangutan beserta anaknya yang berusia 2,5 tahun terpaksa dievakuasi setelah tersesat hingga ke pinggiran permukiman di Kalimantan Tengah, diduga karena habitatnya rusak terbakar. Anak-anak sekolah pun harus menembus kepungan asap setiap hari dengan masker menutupi wajah, mempertaruhkan kesehatan paru-paru mereka.

Prabowo turun ke lokasi

Merespons karhutla yang kian menggila, Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi kebakaran di Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, usai memimpin rapat terbatas penanganan karhutla. Ia menekankan penanganan harus cepat dan terkoordinasi agar api tidak meluas.

Pemerintah kini memusatkan penanganan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan dengan mengerahkan lebih dari 60.177 personel gabungan, didukung operasi water bombing dari udara dan Operasi Modifikasi Cuaca.

Sebagai gambaran besarnya kerugian, BNPB pernah mencatat Indonesia mengalami kerugian hingga Rp75 triliun akibat karhutla sepanjang tahun 2019. Pemerintah juga telah berkomunikasi dengan sejumlah negara tetangga yang terdampak asap lintas batas.

Sumber: Siapa di Balik Kebakaran Hutan Sumatra Dan Kalimantan — YouTube - CNN Indonesia