Breaking
Memuat breaking news...

DEN: Subsidi BBM Tepat Sasaran Berpotensi Hemat Anggaran hingga Rp200 Triliun

Qaplo
Qaplo
Jumat, 26 Juni 2026 - 11.20 AM WIB
DEN: Subsidi BBM Tepat Sasaran Berpotensi Hemat Anggaran hingga Rp200 Triliun
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA – Dewan Energi Nasional (DEN) memperkirakan negara berpotensi menghemat anggaran hingga Rp200 triliun apabila subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan kompensasi energi disalurkan secara lebih tepat sasaran. Dana tersebut dinilai dapat dialihkan untuk memperkuat program perlindungan sosial maupun mendukung berbagai kebutuhan pembangunan nasional.

Anggota DEN, M. Fadhil Hasan, mengatakan masih terdapat persoalan dalam mekanisme penyaluran subsidi energi, terutama karena sebagian manfaat justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang tidak menjadi sasaran utama kebijakan.

"Nantinya dana tersebut bisa digunakan untuk perlindungan sosial, kemudian juga program-program lainnya," ujar Fadhil, dikutip dari Antara, Kamis (25/6/2026).

Kelompok Mampu Dinilai Masih Lebih Banyak Menikmati Subsidi

Fadhil menjelaskan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya inclusion error, yaitu kondisi ketika bantuan atau subsidi diterima oleh pihak yang sebenarnya tidak termasuk kelompok penerima yang berhak.

Berdasarkan kajian yang menjadi rujukan DEN, distribusi manfaat subsidi energi masih belum merata. Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi disebut memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan masyarakat berpenghasilan rendah.

Ia menyebut sekitar 10 persen kelompok masyarakat terkaya menikmati subsidi dan kompensasi energi sekitar Rp2,5 juta per kapita setiap tahun. Sebaliknya, 10 persen kelompok masyarakat termiskin hanya menerima manfaat sekitar Rp50 ribu per kapita per tahun.

"Itu merupakan ketidakadilan, karena subsidi yang seharusnya melindungi masyarakat kurang mampu justru lebih banyak dinikmati kelompok yang mampu," kata Fadhil.

Menurutnya, sekitar 20 persen kelompok masyarakat terkaya saat ini menikmati lebih dari separuh total manfaat subsidi dan kompensasi energi yang diberikan pemerintah.

Potensi Penghematan Mencapai Rp170–200 Triliun

DEN memperkirakan potensi penghematan anggaran dapat mencapai Rp170 triliun hingga Rp200 triliun apabila kesalahan sasaran dalam penyaluran subsidi dan kompensasi energi berhasil ditekan secara signifikan.

"Kalau kita bisa menghilangkan inclusion error yang ada dalam subsidi dan kompensasi, kita bisa menghemat sekitar Rp170 hingga Rp200 triliun," ujar Fadhil.

Menurutnya, anggaran yang berhasil dihemat dapat dialihkan untuk berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari perlindungan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur yang lebih berdampak bagi masyarakat.

DEN Dorong Reformasi Subsidi Energi

Untuk mewujudkan penyaluran subsidi yang lebih efektif, DEN mendorong pemerintah bersama DPR mempercepat reformasi kebijakan subsidi energi.

Salah satu opsi yang diusulkan adalah penerapan subsidi tertutup, yaitu skema penyaluran subsidi yang hanya diberikan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu berdasarkan data sosial ekonomi yang telah diverifikasi.

Fadhil menilai integrasi dengan basis data sosial ekonomi nasional yang lebih akurat dan mutakhir menjadi langkah penting agar bantuan energi benar-benar diterima kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Ketepatan Sasaran Dinilai Jadi Kunci Efisiensi

Usulan reformasi subsidi energi tidak hanya bertujuan menghemat anggaran negara, tetapi juga meningkatkan rasa keadilan dalam distribusi bantuan pemerintah.

Apabila penyaluran subsidi semakin tepat sasaran, pemerintah dinilai memiliki ruang fiskal yang lebih besar untuk membiayai berbagai program strategis tanpa harus meningkatkan beban anggaran secara signifikan. Namun demikian, kebijakan perubahan skema subsidi tetap memerlukan pembahasan lebih lanjut bersama DPR serta mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait