Di Desa Ekang, Bintan, Kepulauan Riau, selembar kain tidak selalu lahir dari pewarna kimia dan mesin pabrik. Di tangan Jatmiko, seorang perajin batik, keunikan bentuk dan warna tumbuhan bisa "dicetak" langsung ke atas kain lewat teknik ekoprint. Dari gagasan itu ia membangun sesuatu yang lebih besar: Ekang Green Creative Village, sebuah ekosistem yang merangkai budaya, kreativitas, lingkungan, dan pemberdayaan warga desa.

Mengetuk Daun hingga Menjadi Motif Kain

Di rumah batik yang dikelolanya, pengunjung tidak hanya bisa mencoba membatik secara manual, tetapi juga bereksperimen membuat kain ekoprint. Prosesnya sederhana namun teliti: daun pilihan yang kaya klorofil diletakkan di atas kain, dilapisi plastik, lalu diketuk perlahan dengan palu kayu.

"Jika kita biarkan daunnya sampai kering, kemungkinan getah dari daun semuanya menempel sempurna," jelas Jatmiko dalam tayangan SUSTENESIA di Kompas TV. Setelah kering, kain dibiarkan beroksidasi minimal enam jam, lalu warnanya dikunci dengan kapur agar tidak luntur.

Hasilnya adalah motif alami khas yang tidak bisa diduplikasi: pola daun asli dengan warna natural yang menjadi karakter tersendiri pada setiap kain.

Limbah Batik Diolah Jadi Kompos

Dari proses membatik dan ekoprint, Jatmiko melihat potensi lain dari sisa bahan yang dihasilkan. Limbah tersebut ia olah menjadi kompos yang kemudian digunakan di lahan pertanian.

Dengan begitu, manfaatnya tidak berhenti pada kain yang indah, tetapi berlanjut hingga ke sawah dan kebun: mendukung praktik bertani ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Merangkul Potensi Desa dalam Satu Ekosistem

Berangkat dari harapan itulah Jatmiko menggagas Ekang Green Creative Village. Menurutnya, potensi Desa Ekang sebenarnya besar: pertanian, budaya membatik, sanggar tari anak-anak, hingga hutan mangrove. Namun selama ini semua potensi itu berjalan sendiri-sendiri dan belum dimaksimalkan.

Lewat gagasannya, seluruh potensi tersebut dirangkul dan dimasukkan ke dalam satu ekosistem. Ekonomi sirkular menjadi cita-cita besar yang ingin diwujudkan: sebuah ekosistem yang tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga merawat alam, memberdayakan manusia, dan menjaga budaya yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Terpilih sebagai SDG Leader Bappenas

Gagasan tersebut mengantarkan Jatmiko menjadi salah satu SDG Leader di bawah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Lewat program ini, ia berpeluang terhubung dengan berbagai fasilitasi dan dukungan, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses logistik, pemasaran yang lebih luas bahkan hingga ekspor, hingga perkenalan dengan para investor.

Warga Merasakan Langsung Manfaatnya

Emma, seorang ibu rumah tangga di desa tersebut, mengaku merasakan manfaat sejak bergabung dengan Ekang Green Creative Village. Ia mendapat kesempatan belajar dan berkarya, yang pada akhirnya mengubah hidupnya termasuk dari sisi penghasilan.

Alhamdulillah, ada perubahan. Jika pemasaran nanti lancar, pasti ada uang tambahan untuk ibu rumah tangga.

Gagasan Jatmiko pun disambut baik masyarakat. Mereka menilai desa mereka cukup strategis karena dilewati wisatawan, sehingga desa wisata berkelanjutan dinilai sebagai jalan yang sangat baik untuk dikembangkan bersama.

Harapan: Desa Wisata Berkelanjutan

Jika cita-cita itu terus tumbuh, akan semakin banyak keluarga yang berpeluang terlibat dan merasakan manfaat ekonomi. Harapannya sederhana namun besar: sampah di desa teratasi, pendapatan warga bertambah, dan budaya terus dilestarikan.

Sebuah wujud pembangunan di wilayah yang sesungguhnya menyimpan potensi lokal begitu besar.

Sumber: Kompas TV