BRIN dan UNNUR Kembangkan Drone Berbahan Serat Alam, Lebih Ringan dari Logam
Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Universitas Nurtanio (UNNUR) Bandung untuk mengembangkan dua prototipe pesawat nirawak alias drone: satu berjenis VTOL (Vertical Take-Off and Landing, drone yang bisa lepas landas dan mendarat secara vertikal seperti helikopter) dan satu lagi berjenis quadcopter (drone berbaling-baling empat).
Bahan Baku dari Serat Abaka hingga Ampas Sawit
Keunikan kedua prototipe ini terletak pada bahan pembuatnya. Drone VTOL memanfaatkan komposit serat abaka (sejenis serat pisang-pisangan) dan serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang ditambah karbon aktif dari TKKS, sedangkan drone quadcopter menggunakan material epoksi yang dipadukan dengan komposit serat abaka dan karbon aktif dari bambu.
Hal ini diungkapkan Dosen Program Studi Teknik Penerbangan sekaligus Wakil Rektor I Universitas Nurtanio, Lies Banowati, dalam ajang ORNM Talk and Expo 2026 di Graha Widya Bhakti (GWB) Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Sabtu (5/9/2026). Ia menjelaskan, drone VTOL yang dikembangkan memiliki bobot maksimum saat lepas landas (Maximum Takeoff Weight/MTOW) sebesar 5,5 kilogram, sementara drone quadcopter memiliki MTOW 3 kilogram.
Kenapa Serat Alam? Ini Alasannya
Menurut Lies, salah satu keunggulan utama kedua drone ini terletak pada strukturnya yang jauh lebih ringan dibanding drone lain yang menggunakan material plastik atau logam. Berdasarkan hasil pengujian, serat abaka memiliki densitas atau tingkat kepadatan yang relatif rendah, sekitar 1 gram per sentimeter kubik — jauh lebih ringan dibanding serat karbon (2,2 gram per sentimeter kubik) maupun aluminium (3,8 gram per sentimeter kubik). Karakteristik ringan inilah yang membuat serat abaka dinilai berpotensi besar dijadikan material struktur drone.
Tak hanya ringan, serat abaka yang digunakan pada quadcopter juga terbukti kuat. Hasil uji tarik material menunjukkan kekuatannya mencapai sekitar 111,5 MPa (megapascal, satuan untuk mengukur kekuatan material menahan tarikan), sehingga layak dijadikan alternatif pengganti material konvensional.
Lies menyebut, penggunaan bahan biomassa lokal ini sekaligus sejalan dengan upaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) — mengingat Indonesia memiliki ketersediaan biomassa yang melimpah, namun potensinya menurutnya belum dimanfaatkan secara optimal selama ini.
Bukan Cuma untuk Pertanian, Bisa Juga untuk Bantuan Bencana
Drone VTOL dan quadcopter ini dirancang punya banyak kegunaan, terutama di sektor pertanian dan perkebunan. Keduanya bisa dipakai untuk memetakan dan mengidentifikasi keberadaan hama tanaman, sekaligus mengukur kadar air dalam tanah — informasi yang menurut Lies sangat bermanfaat bagi pelaku usaha perkebunan maupun perusahaan pertanian.
Selain untuk pertanian, drone ini juga bisa dimanfaatkan untuk mendistribusikan obat-obatan dan alat medis berukuran ringan ke wilayah terdampak bencana yang sulit dijangkau kendaraan biasa. Lies bahkan menyebut rencana pengembangan lebih lanjut untuk mendeteksi sejauh mana keberadaan Sesar Lembang, patahan aktif yang berada di kawasan Bandung.
Sudah Diuji Terbang, Jangkauan hingga 15 Km
Peneliti Ahli Madya PRBB, Nidya Chitraningrum, menambahkan bahwa drone VTOL sudah dilengkapi kamera dan seluruh sistemnya berjalan baik. Drone jenis fixed wing (bersayap tetap) ini sudah melalui uji darat (ground test) dan tinggal menunggu uji terbang di Lanud Sulaiman, Bandung. Sementara drone quadcopter sudah diuji dan terbukti bisa terbang dengan baik.
Kedua drone ini mengandalkan baterai lithium polymer (LiPo) dan mampu menempuh jarak antara 10 hingga 15 kilometer, tergantung ukuran rentang sayap (wingspan) prototipe yang digunakan. Menurut Nidya, dengan kapasitas operasi baterai hingga satu jam, drone bahkan mampu menempuh jarak lebih dari 15 kilometer.
Sudah Dipatenkan, Menuju Tahap Hilirisasi
Nidya menjelaskan, pengembangan drone berbasis material komposit serat alam ini punya potensi besar di Indonesia, mengingat melimpahnya ketersediaan biomassa yang bisa diolah menjadi bahan bernilai tambah tinggi. Ia berharap prototipe ini bisa dilanjutkan hingga tahap hilirisasi atau komersialisasi.
Dari sisi kekayaan intelektual, drone VTOL berbasis biomassa ini telah didaftarkan untuk memperoleh paten, sementara drone quadcopter sudah lebih dulu memperoleh paten pada 2026. BRIN sendiri menyatakan terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak guna mengembangkan teknologi ini lebih lanjut sesuai kebutuhan.
Bagi UNNUR, kolaborasi riset ini juga membawa manfaat tersendiri. Menurut Lies, selain memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa yang terlibat, kerja sama semacam ini turut mendukung status UNNUR sebagai kampus berdampak — di mana keluaran riset tidak hanya berhenti pada jurnal atau paten, melainkan harus berlanjut hingga prototipe yang benar-benar dihilirisasi.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda