Dalam setiap era Liga Inggris selalu ada tim yang dicintai semua orang — kecuali pendukung rivalnya. Tim yang permainannya enak ditonton, penuh gol spektakuler, dan tidak punya banyak musuh. Julukannya: neutrals’ favourite, kesayangan para penggemar netral.
Musim ini, Brighton & Hove Albion asuhan Fabian Hurzeler resmi menyandang status itu setelah kemenangan telak atas rivalnya, Crystal Palace, akhir pekan lalu. Gol indah Diego Gomez dalam laga tersebut bahkan disebut-sebut sebagai kandidat gol terbaik musim ini.
Brighton kini dijuluki tim yang “mungkinkah mereka?” — penantang gelar di luar dugaan dalam perebutan juara musim ini. Mereka bermain mengalir, mencetak empat hingga lima gol hampir setiap pekan, dan setidaknya satu di antaranya selalu gol yang luar biasa.
Meski begitu, dalam daftar 10 tim kesayangan penggemar netral era Premier League, Brighton “hanya” menempati peringkat ketiga. Berikut daftar lengkapnya.
1. Newcastle United era Kevin Keegan (1995–1997)
Tidak ada yang menandingi The Entertainers. Tim asuhan Kevin Keegan ini adalah definisi sempurna dari tim kesayangan netral — dan juga “kegagalan terindah” dalam sejarah liga.
Musim 1995/96, Newcastle sempat unggul 10 poin di puncak klasemen, lalu runtuh secara dramatis. Lima kekalahan dalam delapan laga — termasuk kekalahan 4-3 dari Liverpool di Anfield lewat gol Stan Collymore di menit akhir — menyerahkan gelar kepada Manchester United.
2. Leicester City era Claudio Ranieri (2015/16)
Dongeng terhebat dalam sejarah Liga Inggris. Leicester yang musim sebelumnya nyaris terdegradasi, secara ajaib menjuarai liga dengan skuad yang jauh dari kata mewah. Tak ada pencapaian tim lain yang mendekati keajaiban ini.
3. Brighton era Fabian Hurzeler (2026)
Tim paling anyar dalam daftar ini. Brighton bermain dengan penuh kegembiraan, dan kemenangan meyakinkan atas Palace mengangkat mereka ke status penantang gelar yang sebenarnya. Kontras yang menarik: sang manajer disebut “bervibe kurang”, tetapi timnya justru sangat menyenangkan ditonton.
4. Everton era Carlo Ancelotti (2020/21)
Mungkin terdengar tak nyata, tetapi ini benar-benar terjadi. Di masa pandemi, Everton yang diperkuat James Rodriguez dan Dominic Calvert-Lewin memenangi empat laga pembuka dan sempat terasa bisa menantang gelar. Momen indah itu tak bertahan lama — mereka finis di peringkat 10 dan Ancelotti hengkang ke Real Madrid.
5. Manchester City era Pep Guardiola
Untuk waktu yang lama, City adalah “yang paling tidak menyebalkan” di antara para penantang gelar. Klub yang pernah merasakan masa-masa sulit, dengan suporter yang tulus, dan permainan yang mengubah wajah Liga Inggris.
6. Swansea City era Michael Laudrup (2012/13)
Semua tentang satu nama: Michu. Striker yang didatangkan dengan harga murah itu mencetak 22 gol dalam satu musim dan menjadi legenda. Untuk sementara waktu, harga transfer pemain lain bahkan diukur dalam satuan “berapa Michu”.
7. West Ham United era Harry Redknapp (1998/99)
Musim terbaik West Ham di era Premier League: finis kelima dan kembali ke Eropa setelah hampir 20 tahun. Kedatangan Paolo Di Canio di tengah musim menyulut sesuatu yang spesial — termasuk gol voli legendarisnya ke gawang Wimbledon.
8. Southampton era Mauricio Pochettino (2013/14)
Sebelum melatih Tottenham, Pochettino sempat membawa Southampton melesat hingga peringkat tiga pada November setelah enam kemenangan dalam 11 laga. Tim yang mudah disukai, sebelum sang pelatih dan para bintangnya hijrah ke klub yang lebih besar.
9. Leeds United era Marcelo Bielsa (2020/21)
Kembalinya Leeds ke kasta tertinggi setelah 16 tahun absen menjadi tontonan wajib. Tim asuhan Bielsa — sang “pelatihnya para pelatih” — bermain tanpa beban: mencetak gol lebih banyak dari Chelsea yang finis keempat, tetapi juga kebobolan lebih banyak dari Fulham yang terdegradasi. Murni hiburan.
10. Portsmouth era Harry Redknapp
Dua periode Redknapp di Fratton Park menghasilkan konsentrasi pemain-pemain legendaris era 2000-an yang luar biasa: dari Teddy Sheringham, Nwankwo Kanu, Jermain Defoe, hingga Lassana Diarra. Tim yang membuktikan bahwa sepak bola bisa sangat menghibur tanpa harus juara.
Dari daftar ini, satu pelajaran menarik: menjadi kesayangan netral tidak selalu soal trofi. Justru tim-tim yang bermain lepas, penuh kejutan, dan berani menyeranglah yang paling dikenang — persis seperti Brighton musim ini.
Sumber: OneFootball


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda