Qaplo.com - Label less sugar pada makanan dan minuman kerap dipahami sebagai tanda bahwa suatu produk lebih sehat. Namun, Badan Perlindungan Konsumen Nasional atau BPKN mengingatkan konsumen agar tidak langsung percaya pada klaim tersebut
Qaplo.com - Label less sugar pada makanan dan minuman kerap dipahami sebagai tanda bahwa suatu produk lebih sehat. Namun, Badan Perlindungan Konsumen Nasional atau BPKN mengingatkan konsumen agar tidak langsung percaya pada klaim tersebut tanpa memeriksa informasi gizi secara lebih lengkap.
Ketua BPKN, Mufti Mubarok, menilai istilah less sugar memang dapat membantu konsumen memahami bahwa kadar gula dalam produk dikurangi. Namun, klaim itu belum tentu berarti produk tersebut benar-benar rendah gula atau otomatis lebih aman dikonsumsi berlebihan.
Peringatan ini disampaikan dalam diskusi Detikcom Leaders Forum bertajuk “Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut” pada Jumat, 5 Juni 2026. Dalam forum itu, BPKN dan BPOM menyoroti pentingnya sistem pelabelan yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Ada tiga hal utama yang perlu dicermati konsumen. Pertama, label less sugar belum tentu sama dengan rendah gula. Kedua, nutri level dapat membantu membaca kandungan gula, garam, dan lemak atau GGL secara lebih sederhana. Ketiga, konsumen tetap perlu memeriksa informasi gizi, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli produk.
Mengapa Label Less Sugar Perlu Dicermati?
Istilah less sugar berarti kandungan gula dalam produk dikurangi dibandingkan formula tertentu atau produk pembanding. Namun, bagi konsumen umum, klaim seperti ini bisa menimbulkan persepsi bahwa produk tersebut aman dikonsumsi berlebihan.
Padahal, produk dengan label less sugar belum tentu masuk kategori rendah gula. Jika kadar gula awalnya sangat tinggi, pengurangan beberapa persen masih dapat menyisakan jumlah gula yang cukup besar.
Mufti Mubarok menyebut istilah semacam itu bisa menjadi “jebakan” bila tidak disertai informasi yang jelas. Karena itu, konsumen tetap perlu membaca label gizi, takaran saji, serta komposisi bahan pada kemasan.
Nutri Level Dinilai Lebih Mudah Dipahami
Untuk membantu konsumen, pemerintah mendorong penggunaan sistem nutri level. Label ini dirancang untuk memberi gambaran lebih jelas mengenai kandungan gula, garam, dan lemak atau GGL dalam produk makanan dan minuman.
Sistem nutri level menggunakan kategori A, B, C, dan D dengan warna berbeda. Warna tersebut membantu konsumen mengenali tingkat kandungan tertentu dalam produk secara lebih cepat.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa warna hijau menunjukkan kategori yang lebih baik berdasarkan indikator label, sedangkan hijau muda masih berada pada kategori yang relatif baik. Jika label sudah berwarna kuning, konsumen perlu lebih berhati-hati. Sementara warna merah menjadi penanda bahwa konsumen perlu lebih waspada karena kandungan gula berada pada kategori tinggi.
Dengan penanda warna, konsumen tidak perlu hanya bergantung pada klaim pemasaran di bagian depan kemasan. Mereka dapat membandingkan produk dengan lebih sederhana sebelum membeli.
Fokus pada Gula, Garam, dan Lemak
Kandungan gula, garam, dan lemak atau GGL menjadi perhatian karena konsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari, bahan-bahan tersebut sering tersembunyi dalam produk kemasan, minuman manis, saus, camilan, hingga makanan siap saji.
Hidden sugar atau gula tersembunyi adalah gula yang tidak selalu terasa sangat manis, tetapi tetap menambah total asupan gula harian. Kondisi ini membuat konsumen bisa mengonsumsi gula lebih banyak dari yang disadari.
Karena itu, label yang lebih jelas diperlukan agar pembeli tidak hanya melihat klaim seperti less sugar, low fat, atau lebih sehat, tetapi juga memahami isi produk berdasarkan informasi yang terukur.
BPKN Dorong Label yang Lebih Jelas
Mufti menilai nutri level lebih praktis dibandingkan istilah pemasaran yang bisa ditafsirkan berbeda oleh konsumen. Menurutnya, penanda warna dan kategori akan membantu pembeli mengambil keputusan dengan lebih cepat.
“Label seperti itu bisa menyulitkan, lebih baik fokus ke nutri level,” ujar Mufti.
Ia juga menilai penggunaan label yang lebih akurat penting untuk melindungi konsumen dari kesalahpahaman. Semakin sederhana informasi disampaikan, semakin mudah masyarakat memilih produk sesuai kebutuhan kesehatannya.
BPOM Ingatkan Soal Produk Ilegal dan Palsu
Selain membahas label gizi, BPOM juga mengingatkan konsumen agar memperhatikan keaslian produk. Taruna Ikrar menyebut masih ada produk ilegal atau palsu yang beredar di pasaran.
Karena itu, masyarakat disarankan memeriksa kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli. Pemeriksaan ini penting agar konsumen tidak hanya mempertimbangkan klaim gizi, tetapi juga keamanan produk.
Produk tanpa izin edar atau dengan informasi kemasan yang tidak jelas berisiko menimbulkan kerugian bagi konsumen. Dalam konteks makanan dan minuman, keamanan produk sama pentingnya dengan kandungan gizi.
Cara Membaca Label agar Tidak Tertipu Klaim
Konsumen sebaiknya tidak hanya melihat tulisan besar di bagian depan kemasan. Klaim seperti less sugar perlu dicek kembali melalui tabel informasi nilai gizi dan daftar komposisi bahan.
Perhatikan takaran saji. Kandungan gula bisa terlihat kecil bila dihitung per porsi, padahal satu kemasan mungkin berisi lebih dari satu porsi. Jika satu kemasan dikonsumsi sekaligus, total gula yang masuk juga perlu dihitung sesuai jumlah porsi dalam kemasan.
Jika sistem nutri level sudah tersedia pada produk, gunakan label tersebut sebagai panduan awal. Namun, tetap baca informasi gizi lengkap, terutama bagi orang tua yang memilih produk untuk anak atau konsumen yang sedang membatasi asupan gula, garam, dan lemak.
Penutup
Peringatan BPKN terhadap label less sugar menjadi pengingat bahwa klaim pada kemasan tidak boleh dibaca secara sepintas. Produk yang disebut lebih rendah gula belum tentu otomatis rendah gula atau lebih sehat secara keseluruhan.
Sistem nutri level dinilai dapat membantu konsumen memahami kandungan gula, garam, dan lemak dengan cara yang lebih sederhana. Di sisi lain, pengawasan produk dan kebiasaan membaca label tetap menjadi kunci agar masyarakat dapat memilih makanan dan minuman dengan lebih aman.