Konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan kawasan Timur Tengah kembali jadi sorotan setelah wacana bahwa Teheran bisa "menunggu" hingga perang reda dengan sendirinya. Namun menurut mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Oman, Marc J. Sievers, kalkulasi semacam itu sudah berulang kali terbukti keliru karena meremehkan konsistensi Presiden AS Donald Trump.
Dalam wawancara di kanal Israel in 10 yang diproduksi Misgav Institute, Sievers menyebut pertikaian ini sebagai perang yang aneh karena kerap "padam lalu menyala" lagi. Di setiap jeda itu, kata dia, pihak Iran sempat mengira Washington akan mundur — dan terbukti berkali-kali salah menebak.
Perpecahan di Dalam Teheran
Sievers memotret adanya dua kubu besar di dalam rezim Iran. Di satu sisi ada kalangan politisi dan ekonom yang menginginkan jalan keluar dari konfrontasi agar bisa membangun kembali ekonomi Iran yang remuk oleh sanksi dan tekanan finansial. Di sisi lain, kubu garis keras di Garda Revolusi Iran (IRGC) bertekad tidak memberi konsesi apa pun dan memilih bertahan selama mungkin.
"Cukup jelas bagi saya bahwa kepemimpinan IRGC tidak tertarik pada proses negosiasi," ujarnya dalam wawancara tersebut.
Karena itu, ia menilai jika operasi militer kembali dilanjutkan, tekanan sebaiknya juga diarahkan ke komando IRGC. Langkah semacam itu, menurutnya, berpotensi mengubah dinamika internal Iran sehingga faksi yang menginginkan penyelesaian bisa lebih berpengaruh.
Houthi Bukan Proxy Klasik
Sorotan lain adalah peran Houthi yang belakangan menyerang Arab Saudi dan memicu kenaikan harga minyak. Sievers mengingatkan bahwa Houthi bukanlah proxy tradisional bikinan Teheran seperti Hizbullah atau milisi-milisi di Irak. Kelompok itu lahir sebagai gerakan Syiah Zaidi dari pegunungan Yaman dan punya akar lokal yang kuat.
Namun, kata Sievers, jangan sampai kemandirian itu menutupi peran Iran: Houthi jelas berada di kubu Teheran, dipasok dan dilatih oleh IRGC. Dari milisi kecil bermodal pikap bersenjata, mereka bertransformasi menjadi kekuatan yang memiliki rudal balistik hingga mampu mengancam bandara Riyadh. Menurutnya, eskalasi terbaru kemungkinan besar tidak lepas dari agenda Iran yang tengah mencari cara melawan blokade laut dan sanksi yang melumpuhkan ekonominya.
Ia juga menyinggung laporan Wall Street Journal yang menyebut Houthi berusaha membangun rudal balistik baru berbahan komponen asal China dengan jangkauan yang bisa menjangkau Israel dan Arab Saudi. Israel disebut siaga penuh atas ancaman serangan rudal, darat, maupun laut.
Akankah AS Melindungi Riyadh?
Menjawab pertanyaan apakah sudah saatnya AS turun tangan membela Riyadh, Sievers menilai masalahnya tidak sesederhana itu. Washington diyakini sudah membantu Arab Saudi dalam bentuk dukungan intelijen dan penargetan, tetapi pertanyaan besarnya adalah apakah Trump ingin mengerahkan kekuatan AS langsung membombardir target Houthi.
Di sisi lain, Arab Saudi sendiri memiliki salah satu angkatan udara dengan persenjataan terbaik dan paling modern berkat alutsista buatan Amerika. "Mereka seharusnya mampu melakukan hal semacam itu sendiri," kata Sievers, seraya menambahkan bahwa banyak negara sahabat Saudi juga bisa membantu pertahanan dari serangan rudal dan drone Houthi.
Pemilu Tidak Otomatis Mengubah Arah
Sievers juga menilai hasil pemilu — baik di Israel maupun pemilu sela AS — kemungkinan tidak akan mengubah arah kebijakan secara drastis. Pembentukan pemerintahan di Israel memakan waktu berbulan-bulan, sementara Trump tetap memegang kemandirian besar di bidang kebijakan luar negeri dan keamanan nasional meski Partai Demokrat memenangkan DPR, atau bahkan DPR dan Senat sekaligus.
Lantas, seperti apa "kemenangan" yang dicari Trump atas Iran? Menurut Sievers, jawabannya terletak pada berkas nuklir: ia ingin rezim Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya — baik yang berperingkat tinggi maupun rendah — dan mengeluarkannya dari Iran. Selain itu, Washington menginginkan penghentian kapasitas pengayaan uranium Teheran di masa depan.
Sievers menambahkan, Trump mungkin semakin berkeyakinan bahwa target nuklir itu hanya bisa dicapai lewat perubahan rezim di Iran, meski itu adalah persoalan jangka panjang yang bergantung pada dinamika internal setelah meriam berhenti.
Sebagai catatan, dalam segmen berita di episode yang sama disebutkan pula sejumlah perkembangan kawasan: Kolombia disebut menjadi negara ke-10 yang membuka kedutaan di Yerusalem; Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menandai satu tahun sejak 20 sandera hidup terakhir dibebaskan dari Gaza — dari total 251 orang yang diculik pada 7 Oktober, 168 di antaranya kembali hidup; serta militer Israel menyatakan menewaskan seorang komandan Hamas yang pernah menahan sandera.
Sumber: Bisakah Trump Menaklukkan Iran? | Marc Sievers — YouTube - Misgav Institute


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda