BI dan Pemerintah Perkuat Pengendalian Inflasi, Harga Pangan Tetap Jadi SorotanBI dan Pemerintah Perkuat Pengendalian Inflasi, Harga Pangan Tetap Jadi Sorotan

JAKARTA - Kenaikan harga komoditas global masih menjadi tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan inflasi nasional hingga Juni 2026 masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan bank sentral, meski tekanan harga terutama dari sektor pangan belum sepenuhnya mereda.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini dinilai penting karena inflasi berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat dan biaya hidup sehari-hari.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan koordinasi pengendalian inflasi dilakukan secara berkelanjutan seiring masih tingginya harga sejumlah komoditas dunia.
"Kami terus berkoordinasi pusat dan daerah menjaga inflasi karena harga global naik," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa.
Inflasi Masih Dalam Target, Tetapi Mendekati Batas Atas
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat 0,44 persen secara bulanan. Sementara secara tahunan, inflasi mencapai 3,34 persen.
Angka tersebut masih berada dalam target BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen atau dalam rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Namun posisi inflasi yang sudah mendekati batas atas target menunjukkan pengendalian harga tetap perlu menjadi perhatian.
Bagi masyarakat, inflasi mencerminkan kenaikan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi sehari-hari. Ketika inflasi meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan, kemampuan belanja rumah tangga dapat tertekan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan bank sentral masih optimistis inflasi akan tetap terkendali sepanjang 2026 hingga 2027 berkat sinergi kebijakan pemerintah, program ketahanan pangan nasional, serta kebijakan moneter yang konsisten.
Harga Pangan Masih Menjadi Sumber Tekanan
Meski inflasi secara umum masih terkendali, kelompok pangan tetap menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi pergerakan harga.
BI mencatat kelompok volatile food atau komoditas pangan yang harganya mudah berfluktuasi mengalami inflasi 0,14 persen secara bulanan pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibanding Mei yang mencapai 0,22 persen.
Kenaikan harga masih terjadi pada beberapa komoditas utama seperti bawang merah, bawang putih, dan beras. Menurut BI, kondisi ini dipengaruhi oleh berkurangnya produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya distribusi, serta berakhirnya musim panen raya yang sebelumnya membantu menjaga pasokan.
Secara tahunan, inflasi kelompok pangan bergejolak mencapai 5,58 persen. Meski masih relatif tinggi, angka tersebut membaik dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 6,24 persen.
Bagi rumah tangga, kenaikan harga pangan biasanya menjadi yang paling cepat dirasakan karena berhubungan langsung dengan kebutuhan sehari-hari.
Inflasi Inti Naik Tipis
Selain memantau harga pangan, BI juga memperhatikan perkembangan inflasi inti, yaitu ukuran inflasi yang digunakan untuk melihat kecenderungan tekanan harga dalam jangka menengah dan panjang.
Inflasi inti tidak memasukkan komoditas yang harganya sangat bergejolak maupun harga yang diatur pemerintah, sehingga sering digunakan untuk mengukur tekanan inflasi yang lebih mendasar.
Pada Juni 2026, inflasi inti tercatat 0,23 persen secara bulanan, sedikit lebih tinggi dibanding Mei yang sebesar 0,22 persen. Secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 2,76 persen dari sebelumnya 2,59 persen.
Menurut BI, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh tingginya harga komoditas global. Namun ekspektasi inflasi masyarakat dan dunia usaha masih relatif terjaga sehingga tekanan harga belum berkembang menjadi lonjakan yang lebih luas.
Mengapa Harga Global Berpengaruh?
Meski memiliki sumber daya alam dan produksi pangan yang cukup besar, Indonesia tetap terhubung dengan dinamika perdagangan global.
Ketika harga energi, pupuk, bahan baku industri, atau biaya logistik internasional meningkat, biaya produksi di dalam negeri ikut terdorong naik. Dalam kondisi tertentu, kenaikan biaya tersebut dapat berujung pada kenaikan harga barang yang dibayar konsumen.
Karena itu, pengendalian inflasi tidak hanya mengandalkan kebijakan suku bunga BI. Pemerintah juga berperan melalui penguatan pasokan pangan, perbaikan distribusi, pengelolaan cadangan pangan, hingga koordinasi pengendalian harga di daerah.
Dampaknya bagi Masyarakat dan Dunia Usaha
Inflasi yang tetap terkendali membantu menjaga daya beli masyarakat karena harga kebutuhan pokok tidak mengalami lonjakan tajam dalam waktu singkat.
Bagi pelaku usaha, stabilitas harga memberikan kepastian dalam menyusun biaya produksi, menentukan harga jual, dan merencanakan ekspansi bisnis.
Sementara bagi investor dan pelaku pasar keuangan, inflasi yang terkendali biasanya menjadi salah satu indikator yang mendukung kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi.
Ke depan, perhatian utama masih tertuju pada pasokan pangan dan kelancaran distribusi barang. Jika kedua faktor tersebut dapat dijaga, tekanan dari kenaikan harga global diharapkan tidak berkembang menjadi beban yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.
sumber: antara
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda