Beres Tiga Bulan Menumpang, Korban Bencana Aceh Bersiap Pindah ke Huntap PermanenBeres Tiga Bulan Menumpang, Korban Bencana Aceh Bersiap Pindah ke Huntap Permanen

JAKARTA — Harapan baru mulai tumbuh bagi warga penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh. Setelah berbulan-bulan bertahan di posko pengungsian dan hunian sementara, sejumlah warga kini bersiap menempati rumah hunian tetap (huntap) baru yang dibangun oleh pemerintah melalui skema in situ atau pembangunan langsung di atas lahan milik warga sendiri.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa percepatan pembangunan fisik di lapangan terus dikebut. Untuk memastikan proses transisi berjalan lancar, pemenuhan kebutuhan papan ini juga dibarengi dengan penyaluran paket bantuan logistik dasar bagi masyarakat setempat.
"Selain meninjau progres kemajuan konstruksi rumah di lapangan, Kepala BNPB juga menyerahkan bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di titik lokasi Kualasimpang dan Peureulak Barat," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Senyum Penyintas: Dari Huntara Menuju Rumah Kokoh Tipe 36
Dampak nyata dari percepatan proyek ini dirasakan langsung oleh Nurbayti (64), seorang warga Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang. Rumah lamanya yang hancur total akibat terjangan banjir kini telah menjelma menjadi bangunan permanen yang siap huni.
Nurbayti mengisahkan, selama hampir tiga bulan terakhir ia dan keluarganya terpaksa bertahan di fasilitas Hunian Sementara (Huntara) dengan ruang gerak yang terbatas.
"Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Dalam waktu dekat kami sudah bisa pindah dan menempati rumah baru ini yang jauh lebih aman," tuturnya kepada petugas lapangan BNPB.
Cerita serupa datang dari Muhammad Fuad (35), seorang teknisi elektronik asal Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur. Sebelum bantuan rumah dari pemerintah ini berdiri, Fuad terpaksa memboyong keluarganya untuk menumpang di rumah mertua karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak.
Menurut Fuad, struktur bangunan rumah standar tipe 36 yang disediakan pemerintah saat ini memiliki kualitas yang jauh lebih baik dan kokoh dibandingkan dengan rumah lamanya sebelum dilanda bencana.
"Bangunan ini jauh lebih bagus dan nyaman. Kehadiran huntap ini menjadi modal dan harapan baru bagi keluarga kami untuk kembali menjalani kehidupan secara normal," kata Fuad.
Data Progres Konstruksi di Tiga Provinsi
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, total usulan rekonstruksi rumah rusak berat dengan skema in situ mencapai kisaran 15.000 unit. Usulan tersebut mencakup tiga provinsi yang terdampak bencana serupa, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dari belasan ribu target tersebut, penanganan dilakukan secara bertahap dengan rincian progres sebagai berikut:
Sedang dalam konstruksi: Sekitar 800 hingga 900 unit rumah dibangun secara serentak di berbagai titik evaluasi.
Rampung fungsional: Hampir 400 unit rumah di antaranya sudah selesai dibangun dan mulai diserahterimakan kepada warga.
Pemerintah menegaskan bahwa skema pembangunan di lahan milik sendiri ini dipilih agar masyarakat tidak kehilangan ruang sosial dan mata pencaharian mereka yang lama, sekaligus mempercepat proses pemulihan ekonomi lokal pascabencana.

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda