Bulan lalu, sebuah studi dari Stanford University menemukan bahwa lapangan kerja tingkat pemula di sektor-sektor yang disebut "terdampak AI" tertinggal jauh dibanding sektor lain. Kini, riset baru dari lembaga ekonomi CESifo di Munich menemukan hal sebaliknya: tidak ada bukti signifikan bahwa AI menggeser atau mengurangi peluang kerja lulusan baru perguruan tinggi, baik secara mutlak maupun dibanding kelompok lain.
Dalam makalah berjudul "The Early Impacts of AI on Employment Among Recent College Graduates", peneliti Robert Fairlie dan Jane Wu menjelaskan alasan mereka fokus pada lulusan baru: perubahan permintaan tenaga kerja biasanya lebih dulu terlihat lewat berkurangnya perekrutan baru, ketimbang lewat pemutusan hubungan kerja pada karyawan lama. Logikanya, begitu AI cukup mampu mengerjakan tugas-tugas standar di banyak posisi entry-level, perusahaan lebih mungkin mengurangi rekrutmen untuk posisi sederhana daripada memecat karyawan berpengalaman.
Ada alasan untuk menduga lulusan 2026 lebih berisiko terdampak AI dibanding lulusan satu-dua tahun sebelumnya. Peneliti CESifo menunjuk lonjakan tajam jumlah perusahaan yang "mengganti banyak tugas karyawan dengan AI" dalam survei Sensus AS, ditambah kenaikan luas belanja AI per karyawan dan penggunaan token ChatGPT Enterprise dalam 12 bulan terakhir.
Sejumlah tokoh besar juga sempat menyuarakan kekhawatiran serupa. Investor modal ventura Marc Andreessen awal tahun ini menyebut AI baru benar-benar cukup mumpuni untuk mengerjakan pekerjaan yang kini mulai dipangkas perusahaan sejak Desember 2025. CEO BlackRock Larry Fink pada Maret bahkan menyebut kecepatan perubahan AI bisa membuat lulusan kuliah tahun ini menghadapi tingkat pengangguran tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, bahkan tanpa adanya resesi. Namun perlu dicatat, kedua pernyataan ini adalah opini pribadi mereka, disampaikan sebelum riset CESifo ini terbit — bukan bagian dari temuan data yang dibahas dalam studi ini.
Datanya belum menunjukkan hal mengkhawatirkan
Untuk menguji kekhawatiran itu, peneliti CESifo menelusuri data mikro rinci dari Current Population Survey milik Biro Sensus AS, guna melihat tren pengangguran di kalangan lulusan sarjana usia 22 hingga 25 tahun yang tidak sedang menempuh gelar lebih tinggi. Karena angka pengangguran memang biasanya melonjak setiap musim panas saat lulusan baru mulai mencari kerja, peneliti membandingkan tren tahun ke tahun dan tren musiman sejak 2022 — tahun ketika lapangan kerja kembali ke level sebelum pandemi sekaligus tahun ChatGPT diluncurkan.
Hasilnya, tingkat pengangguran musim panas 2026 untuk kelompok lulusan muda ini berada di angka 7,3 persen — masih dalam rentang wajar dibanding tahun-tahun sebelumnya, mulai dari 6,3 persen pada 2022 hingga 7,8 persen pada 2024. Angka ini tetap tidak mencolok bahkan setelah dihitung ulang dengan memasukkan lulusan yang mengaku "ingin bekerja" meski sedang tidak aktif mencari kerja, sehingga secara resmi tidak masuk kategori "pengangguran".
Untuk menguji kekuatan temuan ini, peneliti membandingkan kelompok lulusan baru dengan dua kelompok lain: lulusan non-perguruan tinggi pada rentang usia yang sama, dan lulusan perguruan tinggi yang lebih tua (usia 30-49 tahun). Mereka juga memilah data berdasarkan tingkat "paparan AI" tiap pekerjaan, mengacu pada studi 2023 soal jenis pekerjaan yang paling mudah digantikan sistem AI.
Dalam hampir semua perbandingan itu, perbedaan tren antar kelompok sepanjang 2022-2026 tidak signifikan secara statistik. Peneliti menyimpulkan datanya menunjukkan kisah yang konsisten: pengangguran di kalangan lulusan baru pada musim panas 2026 tidak lebih tinggi dari biasanya dibanding musim panas tahun-tahun sebelumnya, di semua kelompok pembanding.
Kenapa hasilnya beda dengan studi Stanford?
Lantas, bagaimana temuan ini bisa berbeda jauh dengan studi Stanford yang hasilnya nyaris berlawanan? Studi Stanford memakai data payroll dari perusahaan HR ADP, yang mencakup irisan cukup luas dari perekonomian, tapi berpotensi melewatkan sejumlah elemen yang tercakup dalam survei sensus yang lebih luas. Data ADP juga mengukur total pasokan lapangan kerja di berbagai bidang, sementara tingkat pengangguran yang diteliti CESifo turut memperhitungkan permintaan agregat terhadap pekerjaan itu — permintaan yang bisa saja bergeser meski pasokan pekerjaan di bidang tertentu mulai menyusut akibat AI.
Peneliti CESifo menyimpulkan data pengangguran musim panas 2026 ini menjadi "uji awal yang berguna" untuk melihat sejauh mana penggunaan AI yang makin masif memengaruhi — atau, seperti yang ditunjukkan data ini, belum memengaruhi — pasar kerja AS saat ini.
Namun mereka juga mengingatkan, tren saat ini tidak menjamin performa di masa depan. Jika intensitas penggunaan AI di tempat kerja terus meningkat, lulusan angkatan 2027 dan seterusnya bisa jadi lebih terdampak dibanding lulusan 2026, dan dibutuhkan data beberapa tahun lagi untuk memastikan apakah dampak itu benar-benar muncul seiring makin dalamnya penggunaan AI di dunia kerja.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda