Breaking
Memuat breaking news...

Beda Pandangan Politik: FBI Justru Rangkul China dan Rusia untuk Berantas Kejahatan Lintas Negara

Redaksi
Redaksi
Kamis, 13 Agustus 2026 - 6.44 AM WIB
Beda Pandangan Politik: FBI Justru Rangkul China dan Rusia untuk Berantas Kejahatan Lintas Negara
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Sementara Washington, Beijing, dan Moskow terus bersaing ketat di panggung geopolitik, ada satu sudut yang bergerak ke arah berlawanan. FBI di bawah kepemimpinan Direktur Kash Patel justru mempererat kerja sama dengan lembaga penegak hukum China dan Rusia — dua negara yang selama ini lebih sering disebut sebagai rival strategis AS ketimbang mitra.

Langkah Patel ke China terbilang tidak biasa jika melihat rekam jejak FBI selama ini. Pada November 2025, ia tercatat sebagai direktur FBI pertama yang menginjakkan kaki di China sejak 2016 — jeda hampir sembilan tahun yang cukup panjang untuk ukuran hubungan antarlembaga penegak hukum dua negara besar.

Kunjungan itu ternyata bukan yang terakhir. Juli 2026, Patel kembali ke China untuk bertemu Menteri Keamanan Publik China Wang Xiaohong. Dari sinilah kerja sama mulai dilembagakan lewat empat kelompok kerja: penipuan siber, kejahatan kekerasan terhadap anak, pemberantasan narkotika, dan pencarian buronan. Menariknya, komunikasi antara kedua pihak disebut berlangsung hampir setiap hari, dan kunjungan pun berjalan dua arah — pejabat Kementerian Keamanan Publik China rutin mengunjungi fasilitas FBI, begitu pula sebaliknya.

Kerja sama ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Salah satu buahnya adalah Operation Sand Dollar, operasi gabungan FBI, Kementerian Keamanan Publik China, dan kepolisian Dubai yang membongkar pusat penipuan siber. Klaimnya cukup besar: sekitar 300 penangkapan, penyitaan aset senilai US$300 juta, serta pembebasan ribuan pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia.

Pendekatan serupa sedang dijajaki dengan Rusia, meski belum serealisasi hubungan dengan China. Patel dikabarkan tengah menyiapkan kunjungan ke Moskow dan St. Petersburg pada pertengahan Oktober, dengan FSB — badan keamanan Rusia — sebagai pihak yang diperkirakan menerima kunjungan tersebut.

Jika benar terwujud, ini akan jadi peristiwa langka. Direktur FBI terakhir yang tercatat mengunjungi Rusia adalah Robert Mueller, pada 2013 — lebih dari satu dekade lalu. Sejauh ini, kontak FBI-Rusia memang sudah berjalan, tapi dalam skala lebih terbatas selama setahun terakhir, terutama untuk menangani jaringan kriminal.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Ia sejalan dengan upaya pemerintahan Presiden Donald Trump meredakan ketegangan dengan Moskow, yang tampak dari kunjungan berulang utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin.

Belum tentu — dan ini bagian yang perlu digarisbawahi. Ladislav Zemanek, peneliti non-residen di China-CEE Institute yang juga pakar di Valdai Discussion Club, menyebut langkah Patel sebagai pergeseran dari persaingan geopolitik ke kerja sama pragmatis, sebagaimana dimuat RT pada Rabu (12/8/2026). Tapi ia menegaskan kerja sama ini terbatas pada bidang tertentu saja: kejahatan siber, narkotika, perdagangan manusia, dan jaringan kriminal lintas negara — bukan rekonsiliasi geopolitik secara menyeluruh.

Pola serupa juga mulai terlihat di sektor pertahanan. Kepala kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, disebut tertarik mengunjungi China untuk menghidupkan kembali hubungan profesional antarmiliter. Menteri Perang AS Pete Hegseth pun mendorong pemulihan komunikasi militer dan hotline krisis AS-China — langkah yang, menurut penjelasan dalam bahan ini, ditujukan untuk mencegah insiden kecil di laut atau udara berkembang menjadi konflik besar.

Zemanek merangkumnya dengan satu kalimat kunci: negara-negara yang bersaing "bekerja sama ketika kepentingan bertemu dan tetap bersaing ketika kepentingan berbeda." Artinya, kerja sama FBI ini tidak akan menyelesaikan perselisihan besar seputar Iran, Taiwan, Ukraina, atau persaingan teknologi. Tapi ia menunjukkan sesuatu yang lain: bahwa negara-negara rival sekalipun bisa bekerja sama saat menghadapi ancaman bersama, seperti kejahatan siber dan perdagangan manusia yang tidak mengenal batas negara.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait