Menyebut kata batik, bayangan banyak orang biasanya tertuju ke Pekalongan, Lasem, atau kota-kota di Pulau Jawa. Namun di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, ada kain batik bercorak khas yang terlahir dari tangan ibu-ibu desa — batik Bintan.
Di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, sekelompok perempuan desa menekuni kain batik dengan motif-motif yang terinspirasi dari kekayaan alam setempat: laut, flora dan fauna, hingga unsur budaya Melayu yang menjadi identitas daerah tersebut.
Berawal dari Seorang Perantau Yogyakarta
Di balik kesibukan para perajin itu, ada sosok penggerak bernama Jatmiko. Pria asal Kulon Progo, Yogyakarta ini telah tujuh tahun menetap di Ekang Anculai. Sejak 2019, ia mulai memperkenalkan teknik membatik kepada ibu-ibu di desa tersebut.
Saat itu, membatik adalah hal baru bagi warga. Banyak ibu-ibu sebenarnya sudah terbiasa memakai kain batik, tetapi belum pernah tahu cara membuatnya. Jatmiko mengajak mereka belajar bersama, sabar satu per satu.
"Saat itu saya ajak ibu-ibu untuk sama-sama belajar membatik. Karena dari kegiatan membatik ini bisa meningkatkan pendapatan mereka," ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube Kompas TV.
Tak berhenti di keterampilan, Jatmiko juga membuka jalan pemasaran. Desa Ekang Anculai terletak tak jauh dari kawasan wisata Lagoi, sehingga kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara menjadi pasar utama produk batik ini.
Lahirnya Rumah Batik Bintan
Pada 2023, Rumah Batik Bintan lahir sebagai wadah produksi sekaligus sarana wisata bagi pelancong yang ingin mengenal batik khas Bintan. Selain memproduksi kain, rumah batik ini membuka eduwisata membatik bagi pengunjung.
Di sana, wisatawan bisa mencoba langsung teknik membatik dengan canting — mulai dari memegang canting yang benar hingga menggoreskan motif di atas kain. Ibu-ibu perajin yang telah dilatih dilibatkan untuk mendampingi para tamu.
"Batik ini bukan sekadar kain, tapi cerita. Di setiap motif ada nilai lokal yang ingin kami lestarikan," kata Jatmiko.
Membatik ternyata tak semudah yang terlihat. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, dan latihan agar tangan terbiasa menggoreskan motif di atas kain yang masih kering.
Dari Batik ke Ekonomi Sirkular
Kini, Rumah Batik Bintan menjadi bagian dari pengembangan Ekang Green Creative Village yang mengusung konsep ekonomi sirkular — bahkan limbah produksi batik diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian masyarakat.
Inovasi desa ini menarik perhatian hingga tingkat nasional. Sekretariat Nasional SDGs Bappenas RI menilai Jatmiko sebagai inovator lokal yang memanfaatkan potensi budaya dan ekonomi sirkular di tingkat desa.
Dari selembar kain yang dibatik di Ekang Anculai, warga kini punya cerita baru: bahwa kekayaan budaya lokal bisa menjelma menjadi penghidupan.
Sumber: Kompas TV


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda