Breaking
Memuat breaking news...

Bank Sentral Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS, Emas Kian Diminati

Qaplo
Qaplo
Rabu, 1 Juli 2026 - 1.07 PM WIB
Bank Sentral Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS, Emas Kian Diminati
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA – Posisi dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang cadangan devisa terbesar di dunia masih belum tergantikan. Namun, hasil survei terbaru menunjukkan semakin banyak bank sentral yang mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar dengan memperluas komposisi cadangan ke mata uang lain maupun emas.

Perubahan strategi tersebut terungkap dalam survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) yang melibatkan bank sentral, dana pensiun publik, dan sovereign wealth funds dengan total aset kelolaan sekitar US$10 triliun. Temuan itu menggambarkan meningkatnya kehati-hatian para pengelola dana publik terhadap dinamika ekonomi dan geopolitik global.

Menurut laporan tersebut, ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat, meningkatnya risiko politik, serta volatilitas pasar keuangan menjadi faktor utama yang mendorong lembaga-lembaga keuangan melakukan diversifikasi aset cadangan.

Ekonom Senior OMFIF, Yara Aziz, menilai pendekatan lama yang mengandalkan stabilitas pasar dalam jangka panjang kini mulai ditinggalkan.

"Asumsi lama bahwa investor publik bisa menunggu hingga kondisi kembali normal kini terlihat semakin tidak realistis," tulis Yara Aziz dalam laporannya, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (1/7/2026).

Selain melakukan diversifikasi aset, sejumlah institusi keuangan publik juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu proses pengambilan keputusan investasi di tengah pasar yang dinilai semakin kompleks.

Sistem Moneter Global Dinilai Semakin Multipolar

Survei OMFIF menunjukkan pandangan bahwa sistem moneter dunia sedang bergerak menuju struktur yang lebih multipolar atau tidak lagi bergantung pada satu mata uang dominan.

Sebanyak 79 persen bank sentral dan 60 persen dana publik yang menjadi responden meyakini arah tersebut akan semakin terlihat dalam beberapa tahun mendatang.

Meski demikian, laporan tersebut juga menegaskan belum ada mata uang yang benar-benar mampu menggantikan posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia.

Faktanya, dolar AS masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Sepanjang tahun berjalan, mata uang tersebut tercatat menguat sekitar 3 persen, didukung suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, derasnya aliran investasi ke aset-aset AS, serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.

Diversifikasi Cadangan Devisa Mulai Terlihat

Alih-alih mengganti dolar secara langsung, bank sentral lebih memilih memperluas komposisi cadangan devisa ke berbagai instrumen.

Survei mencatat adanya peningkatan alokasi pada beberapa mata uang non-utama seperti krone Norwegia, dolar Selandia Baru, dan poundsterling Inggris.

Sementara itu, euro dan yuan China juga tetap menjadi bagian dari strategi diversifikasi. Namun, responden menilai kedua mata uang tersebut masih menghadapi sejumlah kendala struktural yang membatasi peluangnya menjadi pesaing utama dolar AS dalam waktu dekat.

Meski demikian, mayoritas responden menganggap yuan tetap memiliki peran penting sebagai instrumen diversifikasi portofolio cadangan devisa.

Emas Makin Menarik bagi Bank Sentral

Selain mata uang asing, emas menjadi aset yang semakin diminati sebagai pelengkap cadangan devisa.

Dalam konteks bank sentral, emas dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) karena nilainya cenderung bertahan ketika terjadi gejolak ekonomi, inflasi tinggi, maupun ketegangan geopolitik.

Survei OMFIF menunjukkan sekitar 82 persen bank sentral saat ini telah memiliki cadangan emas. Bahkan, secara neto sekitar 30 persen responden berencana menambah kepemilikan logam mulia tersebut dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Temuan ini menjadi salah satu indikator meningkatnya upaya diversifikasi cadangan devisa global di tengah ketidakpastian ekonomi internasional.

Investor Publik Mulai Melirik Negara Berkembang

Perubahan strategi investasi juga terlihat pada pilihan kawasan tujuan investasi.

Sebanyak 38 persen dana publik global berencana meningkatkan investasi di negara berkembang, naik dibandingkan 27 persen pada survei tahun sebelumnya. Sebaliknya, minat menambah investasi di negara maju turun menjadi 25 persen dari sebelumnya 47 persen.

Selain itu, aset riil seperti infrastruktur dan properti juga semakin diminati. Hampir 60 persen responden menyatakan akan meningkatkan investasi pada sektor tersebut dalam satu hingga dua tahun mendatang.

Walaupun tren diversifikasi semakin kuat, Amerika Serikat dan China masih dipandang sebagai dua pasar utama yang paling menarik bagi investor global. Salah satu faktor penopangnya adalah posisi kedua negara sebagai pusat pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), yang diperkirakan akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa tahun ke depan.

sumber: cnni

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait