Banjir Kepung Padang, Puluhan Keluarga di Kuranji Dievakuasi BPBD dan SAR

PADANG — Hujan yang mengguyur Kota Padang, Sumatera Barat, sejak Senin (3/8/2026) pagi berubah menjadi bencana yang meluas ke hampir seluruh penjuru kota. Sungai-sungai meluap, jalan utama terendam, dan puluhan keluarga harus dievakuasi setelah rumah mereka dikepung air.
Titik yang paling banyak disorot adalah kawasan Lapau Manggu, RT 002/RW006, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji. Di sana, sekitar 35 kepala keluarga terjebak genangan dan membutuhkan pertolongan segera. Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengonfirmasi laporan warga mulai masuk pada siang hari.
Laporan kejadian tersebut masuk sekitar pukul 14.30 WIB. "Evakuasi dilakukan agar warga bisa dikeluarkan dari lokasi banjir, lalu dipindahkan ke tempat yang aman," katanya, seperti dikutip dari keterangan resmi BPBD Padang.
Proses evakuasi di Kuranji mengandalkan perahu karet, dibantu warga sekitar dan sejumlah instansi gabungan. Petugas memprioritaskan kelompok rentan lebih dulu — lansia, anak-anak, dan perempuan hamil — sebelum memindahkan warga lain ke lokasi yang lebih aman.
Genangan Meluas ke 11 Kecamatan
Banjir kali ini tidak hanya terjadi di satu titik. Hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang dan petir, tercatat merata di 11 kecamatan Kota Padang. Kondisi cuaca ekstrem tersebut menyebabkan sejumlah ruas jalan utama dan permukiman warga mulai tergenang air, dengan titik-titik genangan meluas di kawasan padat penduduk seperti Kuranji, Gunung Pangilun, Lubuk Begalung, hingga Koto Tangah.
Wilayah lain yang terdampak parah antara lain Lubuk Minturun, Lambung Bukit, Nanggalo, Padang Selatan, Bungus Teluk Kabung, dan Pauh. Beberapa kawasan permukiman di sana bahkan sempat kehilangan fungsi alat pendeteksi dini banjir. Sistem peringatan dini (EWS) milik Pemerintah Kota Padang di Kecamatan Pauh sendiri dilaporkan ikut terdampak banjir bandang, sehingga fungsi pemantauannya sempat terganggu di tengah situasi darurat.
Di beberapa lokasi, ketinggian air tergolong ekstrem. Banjir dengan arus deras menerjang permukiman dan ruas jalan, dengan air yang dilaporkan mencapai 1,5 meter atau setinggi orang dewasa di sejumlah lokasi. Di kawasan Perumahan Wahana 2, Rimbo Tarok, sebuah mobil minibus tergenang total. Arus deras Batang Kuranji bahkan menyeret gelondongan kayu berukuran besar hingga terbawa ke kawasan Siteba — gambaran betapa derasnya volume air yang turun dari kawasan hulu.
Warga di sepanjang Daerah Aliran Sungai Batang Kuranji dan Batu Busuk sempat merekam video meminta bantuan saat air meluap ke permukiman mereka. Yang membuat kejadian ini terasa akrab bagi warga setempat: kenaikan debit air kali ini berasal dari aliran sungai yang sama dengan lokasi bencana pada November 2025 lalu di Kota Padang. Artinya, ini bukan kali pertama kawasan tersebut menghadapi ancaman luapan sungai dalam waktu kurang dari setahun.
Menghadapi eskalasi kejadian, BPBD Kota Padang menetapkan status siaga. "Banjir kali ini cukup luas dan berdampak langsung pada masyarakat. Seluruh personel dan relawan sudah di lapangan membantu masyarakat untuk evakuasi. Saya sudah instruksikan juga siaga 24 jam," ujar Hendri. Selain personel BPBD, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana dan Kelompok Siaga Bencana turut diturunkan untuk mempercepat penanganan di berbagai titik.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, meninjau langsung salah satu lokasi terdampak di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji. Dalam kunjungan itu, ia mengecek kondisi warga sekaligus mengoordinasikan penanganan darurat lintas dinas. "Tim BPBD dan perangkat daerah terkait lainnya sudah turun melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu, termasuk melakukan evakuasi kepada warga," kata Fadly.
Pemerintah kota mengerahkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Satuan Polisi Pamong Praja untuk membantu BPBD di lapangan, sekaligus menyiapkan bantuan awal berupa makanan dan selimut bagi warga yang mengungsi. Fadly memastikan seluruh perangkat daerah disiagakan, termasuk untuk kesiapan penyaluran bantuan logistik lanjutan bila banjir berlangsung lebih lama.
Pertanyaan yang wajar muncul: bukankah Agustus umumnya masuk periode kemarau? Menurut BMKG, jawabannya terletak pada karakter geografis Sumatera Barat sendiri. Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, menjelaskan bahwa Sumatera Barat tidak mengalami musim kemarau yang benar-benar kering, sehingga hujan berintensitas tinggi masih berpotensi terjadi sepanjang tahun. Posisi wilayah yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia membuat pasokan uap air tetap besar, bahkan di bulan-bulan yang biasanya dianggap kering di wilayah Indonesia lain.
Secara teknis, pemicu hujan kali ini adalah pola awan. Yudha menyebut penyebabnya adalah kumpulan awan yang memanjang mulai dari wilayah Sumatera Utara hingga Sumatera Barat, yang kemudian memicu hujan berdurasi panjang di sejumlah wilayah. Pola awan semacam ini membuat hujan tidak turun sesaat, melainkan bertahan dari pagi hingga sore, cukup lama untuk membuat sungai-sungai kecil di Padang kewalahan menampung debit air.
BMKG sendiri sudah mengeluarkan peringatan dini sebelum banjir benar-benar terjadi, dan kembali menegaskan bahwa potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih akan berlangsung setidaknya tiga hari ke depan. Warga di kawasan rawan diminta menyiapkan langkah evakuasi mandiri jika debit air kembali naik.
Kantor SAR Padang turut menurunkan tim, dilengkapi perahu karet, untuk menangani warga yang terjebak. Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menyebut penurunan tim dilakukan untuk memberi pertolongan kepada warga terdampak banjir di kawasan yang paling parah.
BPBD dan Polresta Padang mengimbau masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi bencana hidrometeorologi susulan — mulai dari pohon tumbang, genangan air, banjir, tanah longsor di kawasan perbukitan, hingga angin kencang. Warga juga diminta terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan segera melaporkan kejadian kebencanaan melalui layanan darurat BPBD Kota Padang agar penanganan bisa lebih cepat dilakukan.
Hingga berita ini disusun, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat banjir tersebut. Data jumlah keluarga terdampak di luar Kuranji, termasuk kerugian materiil, juga masih dalam proses pendataan oleh BPBD dan belum dapat diverifikasi secara independen. Artikel ini akan diperbarui jika ada keterangan resmi lebih lanjut dari pemerintah daerah maupun BMKG.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda