Breaking
Memuat breaking news...

Bangkai Pesawat Pan Am yang Hilang Sejak 1952 Ditemukan di Dasar Atlantik

Qaplo
Qaplo
Sabtu, 25 Juli 2026 - 8.00 AM WIB
Bangkai Pesawat Pan Am yang Hilang Sejak 1952 Ditemukan di Dasar Atlantik
ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Bangkai pesawat Pan American Airways "Clipper Endeavor" yang hilang sejak kecelakaan pada 11 April 1952 akhirnya ditemukan di dasar Samudra Atlantik. Tim eksplorasi dari Air/Sea Heritage Foundation menemukannya pada 2 Juni, setelah pencarian yang berlangsung selama tujuh tahun, di kedalaman sekitar 2.000 kaki dan hanya lima mil dari garis pantai.

Identitas pesawat itu terkonfirmasi lewat huruf putih "PAA" yang masih terlihat jelas di badan pesawat, tepat di atas logo bola dunia bersayap milik Pan American World Airways. Ukuran bangkainya disebut setara dengan pesawat Boeing 737 — gambaran betapa besar pesawat komersial yang selama hampir tiga perempat abad tak diketahui keberadaannya ini.

Pesawat ini sebenarnya bernama resmi Pan Am Flight 526A, dijuluki "Easter Special" karena terbang menjelang Paskah, dengan tujuan Bandara Idlewild New York — yang kini dikenal sebagai Bandara JFK. Baru sembilan menit lepas landas dari San Juan, Puerto Rico, dua mesin di sisi kanan pesawat kehilangan tenaga secara berurutan.

Pilot John C. Burn sempat berusaha memutar balik ke San Juan, tapi pesawat terus kehilangan ketinggian hingga akhirnya ia terpaksa mendaratkan pesawat langsung di permukaan laut. Dari 69 penumpang dan awak yang ada di dalamnya, semuanya dilaporkan selamat dari benturan awal saat mendarat di air — namun itu baru awal dari kepanikan yang sesungguhnya.

Sejumlah penumpang menolak perintah kapten untuk segera keluar dan tetap terikat di kursi masing-masing. Kendala bahasa antar-penumpang memperlambat proses evakuasi, ditambah ombak besar dan ancaman hiu di sekitar lokasi yang membuat sebagian orang memilih bertahan di dalam kabin. Ketika bagian ekor pesawat patah dan badan pesawat mulai tenggelam, 52 dari 69 orang di dalamnya tewas — hanya 17 yang berhasil selamat.

Kecelakaan ini meninggalkan jejak yang jauh lebih besar dari sekadar angka korban. Pada masanya, pengarahan keselamatan sebelum lepas landas dan mendarat — yang kini rutin didengar setiap penumpang pesawat — belum diwajibkan sama sekali. Kekacauan evakuasi Flight 526A menjadi salah satu pemicu lahirnya instruksi baku soal apa yang harus dilakukan penumpang dalam keadaan darurat, aturan yang sampai sekarang masih diterapkan di seluruh dunia.

Pencarian bangkai pesawat ini dipimpin Russ Matthews, presiden sekaligus salah satu pendiri Air/Sea Heritage Foundation. Menurutnya, kedalaman laut di lokasi kejadian terlalu dalam untuk dijangkau penyelam manusia, sementara cuaca buruk dan pandemi Covid-19 berkali-kali menunda proses pencarian selama bertahun-tahun.

Titik terang baru muncul ketika kapal survei Fugro Brasilis membawa sebuah kendaraan bawah laut otonom — semacam robot penyelam tanpa awak berbentuk torpedo — bernama "Miss Millie". Alat seharga 10-12 juta dolar AS ini dilengkapi sonar, teknologi yang memetakan dasar laut menggunakan pantulan gelombang suara, serta kamera untuk merekam apa yang ditemukan di kegelapan bawah laut.

Tim menyisir area seluas 10 mil persegi hampir 30 kali. Pada penyisiran ke-13, mereka sempat menemukan bangkai kapal lain yang tak dikenal, sebelum akhirnya menangkap citra sesuatu yang menyerupai ekor pesawat — disusul badan pesawat lengkap dengan roda pendaratan dan jendela kabin yang masih dapat dikenali.

Bagi keluarga korban, penemuan ini membawa emosi yang campur aduk. Diana Lachatanere kehilangan ayahnya dalam kecelakaan itu saat masih berusia 5 tahun. Ia mengaku baru mengetahui adanya pencarian ini setelah bangkai pesawat ditemukan, dan merasa sedih karena tidak ada jenazah yang bisa dipulangkan kepadanya.

Tim eksplorasi menegaskan situs itu tidak akan diganggu, dan tidak ada rencana untuk mengevakuasi jenazah dari lokasi tersebut. Sebanyak 39 dari 52 korban yang tewas memang tidak pernah ditemukan sejak awal — menjadikan lokasi bangkai pesawat di dasar Atlantik itu satu-satunya tempat yang mendekati "makam" bagi mereka, tujuh puluh tiga tahun setelah kecelakaan yang mengubah cara dunia terbang.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait