Polisi Prancis menangkap seorang pria yang diduga kuat menjadi pelaku utama pembakaran balai kota Limoges saat kerusuhan melanda negara itu pada akhir pekan lalu. Tersangka yang dideskripsikan sebagai aktivis ultra-kiri dan sudah masuk daftar pantau keamanan nasional itu ditangkap pada Selasa pagi di Val d'Issoire, sekitar 50 kilometer dari Limoges.

Balai kota bergaya neo-renaisans yang dibangun pada abad ke-19 itu dibakar pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Api melalap menara jam setinggi 43 meter dan sebagian atap hingga runtuh, menyebabkan kerusakan besar pada bangunan bersejarah tersebut. Wali Kota Limoges Guillaume Guérin menyebut aksi pembakaran itu direncanakan dan menyatakan akan mundur jika pemerintah pusat tidak membantu membiayai pemulihan.

Penyelidikan Diambil Alih Unit Antiteror

Penyelidikan kasus ini telah diambil alih oleh Subdirektorat Antiterorisme (SDAT) Prancis, sementara Kejaksaan Antiteror Nasional mempertimbangkan mengambil alih penanganan perkara. Jaksa Limoges Émilie Abrantes mengonfirmasi penangkapan tersebut dan menyebut tersangka kini ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu berjanji negara akan membantu membangun kembali balai kota Limoges dan menyebut gedung itu sebagai simbol bangsa yang tidak menyerah. Ia dijadwalkan mengunjungi Limoges pada Jumat mendatang.

Gelombang Kerusuhan Nasional

Pembakaran balai kota Limoges adalah bagian dari gelombang kerusuhan yang mengguncang berbagai kota di Prancis sejak akhir pekan. Aksi yang bermula dari protes pelajar bulan lalu kini meluas menjadi demonstrasi besar menentang kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup yang melonjak, dan memburuknya layanan publik.

Otoritas menyebut lebih dari 2.500 orang telah ditangkap sejak kerusuhan pecah. Menteri Kehakiman Gérald Darmanin mengatakan 149 orang telah ditahan dan akan ditindak tegas. Sekitar 1.000 polisi dilaporkan terluka, sementara seorang demonstran kehilangan tangan akibat ledakan granat pengendali massa. Lebih dari 2.000 toko dan pelaku usaha terdampak langsung oleh aksi kekerasan tersebut.

Untuk meredam situasi, jam malam diberlakukan di sejumlah kota, termasuk kawasan Place de la République dan Les Halles di Paris, serta Marseille, Lyon, Bordeaux, Nice, dan Lille. Wali Kota Marseille Benoît Payan menetapkan jam malam bagi anak di bawah umur di kawasan niaga yang paling parah terdampak penjarahan.

Perdana Menteri Lecornu menjanjikan kehadiran polisi secara besar-besaran pada aksi lanjutan yang direncanakan Sabtu mendatang. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez sebelumnya mengakui polisi kehilangan kendali di sejumlah kota; tawaran pengunduran dirinya pada Senin ditolak oleh Presiden Emmanuel Macron. Sementara itu, serikat buruh CGT menyerukan mogok kerja besar-besaran pada 5 November.

Sumber: BBC News