Badai Habagat Hantam Filipina, 8 Orang Tewas dan Ratusan Ribu Warga Terdampak Banjir-Longsor

Delapan orang meninggal dunia dan satu orang masih dinyatakan hilang, setelah fenomena angin muson barat daya yang di Filipina dikenal dengan sebutan Habagat menguat drastis akhir pekan ini. Penguatan angin muson ini terjadi bersamaan dengan munculnya dua siklon tropis, Luis dan Maymay, yang bersama-sama menghantam sejumlah kawasan di negara kepulauan tersebut.
Data ini disampaikan pemerintah Filipina pada Minggu, meski Dewan Penanganan dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC) menegaskan bahwa angka korban jiwa tersebut masih dalam proses validasi dan berpotensi berubah.
Dari delapan korban jiwa yang tercatat sejauh ini, penyebabnya bervariasi antar wilayah. Di daerah Rizal, dua orang tewas akibat longsoran batu. Di Batangas, dua korban lain meninggal karena tenggelam dan tersetrum listrik. Pola serupa terjadi di La Union, di mana dua orang juga tewas akibat kombinasi tenggelam dan tersetrum. Sementara di Benguet, dua korban jiwa tercatat akibat tanah longsor.
Selain korban meninggal, NDRRMC juga mencatat tujuh orang mengalami luka-luka di Benguet—penyebabnya kombinasi tanah longsor dan kecelakaan kendaraan. Satu orang lagi di Batangas dilaporkan hilang hingga laporan ini disusun.
Skala dampak bencana ini cukup besar. NDRRMC mencatat sedikitnya 124 ribu keluarga, atau setara 486 ribu jiwa, terdampak hujan lebat dan banjir di berbagai wilayah Filipina hingga pukul 18.00 waktu setempat pada Minggu.
Wilayah yang terdampak tersebar cukup luas, meliputi Wilayah I Ilocos, Wilayah II Cagayan, Wilayah III Luzon Tengah, Calabarzon, Mimaropa, Bicol, Wilayah VI Visayas Barat, Wilayah IX Semenanjung Zamboanga, hingga Daerah Cordillera (CAR).
Jenis bencana yang terjadi pun tidak seragam di setiap wilayah. Banjir dilaporkan melanda Wilayah I, Wilayah III, Mimaropa, CAR, dan Calabarzon. Sementara tanah longsor terkonsentrasi di Wilayah I, CAR, dan Calabarzon—kawasan yang memang dikenal memiliki kontur perbukitan rawan longsor saat curah hujan tinggi.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, sebanyak 119 pusat evakuasi masih beroperasi hingga pukul 18.00 waktu setempat, menampung sekitar 2.500 keluarga atau 8.300 orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Dari sisi kerusakan properti, tercatat 170 rumah rusak akibat bencana ini—13 di antaranya rusak total, sementara 157 lainnya mengalami kerusakan sebagian. Kerugian infrastruktur diperkirakan mencapai 105,5 juta Peso, atau sekitar Rp30,95 miliar. Sektor pertanian juga tak luput terdampak, dengan estimasi kerugian sebesar 3,5 juta Peso atau sekitar Rp1,02 miliar.
NDRRMC menyebut pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sejumlah mitra lain telah menyalurkan bantuan senilai 13,93 juta Peso, atau setara Rp4,08 miliar, kepada keluarga-keluarga yang terdampak bencana ini.
Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. sendiri telah mengarahkan lembaga-lembaga pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan, menyusul hujan lebat dan banjir yang melanda Metro Manila serta sejumlah wilayah di Pulau Luzon. Bagi Filipina, kombinasi Habagat dengan siklon tropis bukan hal baru—negara ini memang berada di jalur rawan badai tropis setiap tahunnya.
Namun munculnya dua siklon sekaligus, Luis dan Maymay, yang memperkuat pola muson ini membuat dampaknya terasa lebih meluas dibanding kondisi cuaca buruk biasa.
Situasi di lapangan kemungkinan masih akan berkembang, mengingat validasi data korban jiwa oleh NDRRMC belum final. Warga di kawasan rawan longsor dan banjir diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari otoritas setempat.
Catatan: Angka korban jiwa dan data kerusakan dalam berita ini masih berstatus dalam validasi oleh NDRRMC dan berpotensi berubah seiring perkembangan di lapangan.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda