AS Siapkan Larangan Impor Transceiver Data Center Asal China, Saham Produsen AS Melonjak

Pemerintahan Donald Trump kembali membidik produk teknologi asal China, kali ini menyasar komponen inti data center bernama optical transceiver. Rencana ini berpotensi memperuncing lagi ketegangan dagang dan teknologi antara Amerika Serikat dan China, yang selama beberapa tahun terakhir memang sudah saling kunci dalam perang dingin di sektor kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan laporan eksklusif Reuters yang terbit Selasa (4/8/2026) waktu Washington — atau Rabu (5/8) waktu Indonesia — Federal Communications Commission (FCC), regulator telekomunikasi AS, tengah menyusun aturan untuk memblokir impor model-model baru optical transceiver buatan China.
Reuters mengutip empat sumber yang mengetahui rencana tersebut, namun namanya tidak diungkap ke publik. Perlu dicatat, baik Gedung Putih maupun FCC belum merespons permintaan konfirmasi dari Reuters, sehingga rencana ini masih berstatus draf yang belum resmi diumumkan.
Bagi yang belum familiar, optical transceiver adalah komponen kecil yang berfungsi mengubah sinyal listrik menjadi cahaya, dan sebaliknya, sehingga data bisa berpindah antar-server di dalam data center lewat kabel serat optik dengan kecepatan sangat tinggi. Komponen ini praktis jadi "urat nadi" yang menghubungkan ribuan server yang menjalankan model-model AI raksasa.
Alasan utama pemerintah AS mengincar komponen ini adalah kekhawatiran keamanan siber: potensi pencurian data, penyusupan malware, hingga risiko sabotase terhadap layanan data center yang menampung chip-chip canggih penopang AI. Jika aturan ini jadi diterbitkan, para pejabat berharap bisa langsung berlaku efektif pada tahun ini juga.
Meski begitu, sumber Reuters menegaskan FCC masih punya opsi untuk merevisi atau bahkan membatalkan rencana tersebut sebelum resmi disahkan.
Pakar kebijakan AI dari Beacon Global Strategies, Divyansh Kaushik, menilai langkah ini bukan tanpa alasan. "Transceiver jelas membawa risiko besar. Saat pembangunan data center terus digenjot, keamanan rantai pasok harus dijamin sejak dari hulu," ujarnya kepada Reuters.
Begitu kabar ini beredar, pasar saham merespons cepat. Saham tiga produsen transceiver berbasis AS — yang diproyeksikan jadi pihak yang diuntungkan bila aturan ini benar-benar berlaku — kompak melonjak. Lumentum (LITE) naik 7 persen, Coherent (COHR) melesat 11 persen, sementara Applied Optoelectronics (AAOI) melompat hingga 18 persen dalam perdagangan hari itu.
Sejumlah media pasar modal mencatat lonjakan yang sedikit berbeda tergantung waktu pencatatan, namun arah pergerakannya konsisten: investor membaca rencana ini sebagai angin segar bagi pemain domestik AS.
Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Washington langsung bereaksi. Pihak kedubes mendesak AS mendengarkan suara yang lebih rasional dari kalangan pebisnis kedua negara, sekaligus meminta Washington menghentikan tudingan yang mereka sebut sebagai pencemaran nama baik terhadap perusahaan-perusahaan China.
"China akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk merespons tindakan apa pun yang menimbulkan kerugian material terhadap kepentingan nasional kami," tegas pihak Kedubes China.
Pernyataan ini perlu dibaca sebagai sikap resmi pemerintah China, bukan konfirmasi bahwa langkah balasan konkret sudah disiapkan. Sejauh ini belum ada rincian resmi soal bentuk pembalasan yang dimaksud.
Jika aturan ini benar-benar disahkan, perusahaan yang paling terpukul kemungkinan besar adalah Zhongji Innolight (kode saham 300308.SZ), produsen transceiver asal China yang menguasai sekitar 27 persen pangsa pasar transceiver data center global, menurut data Counterpoint Research. Perusahaan ini sebelumnya sudah masuk daftar Pentagon sebagai entitas yang diduga disokong militer China, sejak Juni lalu.
Menariknya, laporan Reuters turut mencatat bahwa sekitar 90 persen pendapatan Innolight justru berasal dari luar China — sebuah data pembanding yang menunjukkan betapa terintegrasinya rantai pasok global perusahaan ini dengan pasar AS, dan karenanya seberapa besar potensi kerugian yang bisa mereka alami bila akses ke pasar AS ditutup.
Produsen AS seperti Coherent dan Lumentum memang punya teknologi yang kompetitif, tapi menurut laporan Foundation for American Innovation yang dikutip Reuters, skala produksi mereka masih jauh di bawah kapasitas pemasok China. Artinya, penyedia layanan cloud raksasa seperti Amazon Web Services (AWS) kemungkinan besar akan menanggung kenaikan biaya operasional bila terpaksa migrasi dari pemasok China ke produsen domestik yang kapasitasnya lebih terbatas.
Kalangan yang mendorong pengetatan ini di internal pemerintahan AS disebut ingin menghindari pengulangan skenario yang pernah terjadi pada Huawei — di mana perangkat telekomunikasi buatan perusahaan China itu sudah kadung tertanam dalam-dalam di infrastruktur AS, sehingga proses membersihkannya belakangan memakan biaya besar dan berjalan lambat.
Sebagai catatan, Huawei sendiri selama ini membantah tudingan pencurian kekayaan intelektual dan spionase yang disokong negara yang dialamatkan AS kepada mereka.
Ada satu konteks politik yang juga relevan untuk dipahami pembaca: FCC selama ini dikenal sebagai lembaga regulator yang independen. Namun pada Juni lalu, Mahkamah Agung AS mendukung langkah Presiden Trump memecat salah satu anggota Federal Trade Commission dari kubu Demokrat — putusan yang secara tidak langsung memperluas kewenangan presiden atas sejumlah lembaga regulator, termasuk yang selama ini dianggap independen.
Konteks inilah yang membuat langkah FCC kali ini dibaca sejumlah pengamat sebagai bagian dari pola yang lebih besar, bukan kebijakan yang berdiri sendiri.
Sebagai gambaran pola tersebut, FCC sebelumnya sudah lebih dulu memasukkan sejumlah produk China lain — mulai dari drone, router, robot, hingga inverter — ke dalam daftar hitam resmi mereka yang dikenal dengan sebutan Covered List, dengan alasan yang sama: ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Penting untuk digarisbawahi, hingga artikel ini ditulis, rencana pelarangan impor optical transceiver China ini masih berstatus draf yang belum diumumkan secara resmi oleh FCC maupun Gedung Putih.
Publik masih perlu menunggu apakah aturan ini akan benar-benar diterbitkan sesuai rencana tahun ini, direvisi, atau justru dibatalkan di tengah jalan. Yang jelas, langkah ini menambah daftar panjang gesekan dagang-teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, di tengah persaingan yang makin ketat memperebutkan dominasi infrastruktur AI global.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda