AS Larang Impor Robot Humanoid China, Alasan Keamanan Nasional dan Dampaknya ke Pasar Global

China yang selama ini memasok mayoritas robot humanoid dunia tiba-tiba kehilangan pasar ekspor terbesarnya.
Pemerintahan Trump pada Selasa mengumumkan larangan impor baru untuk robot humanoid dan robot quadruped atau berkaki empat dari produsen asing. Alasannya: risiko yang tidak bisa diterima bagi keamanan nasional AS. Dalam paket aturan yang sama, AS juga melarang impor power converter yang dipakai untuk menyambungkan infrastruktur energi terbarukan dan baterai ke jaringan listrik.
Aturan ini tidak berlaku surut. Model yang sudah dipakai di AS masih boleh beroperasi.
Larangan ini dikeluarkan Federal Communications Commission (FCC). Dasarnya adalah penetapan keamanan nasional pada Senin oleh badan antar-lembaga yang dibentuk Gedung Putih.
FCC menilai perangkat tersebut bisa menciptakan kerentanan rantai pasok yang mengganggu ekonomi dan keamanan nasional, serta risiko siber yang mengancam infrastruktur kritis AS.
Dalam dokumen penetapannya, pemerintah AS menulis robot-robot yang terhubung internet ini mengumpulkan data yang bisa dimanfaatkan aktor jahat untuk mengawasi warga Amerika, meningkatkan kemampuan dinas intelijen asing, atau bahkan mengambil alih robot dari jarak jauh.
Pola ini bukan yang pertama. Alasan serupa sebelumnya dipakai Washington untuk memblokir penjualan mobil listrik buatan China di AS. Desember lalu, FCC juga mengeluarkan pembatasan serupa untuk drone buatan asing, yang praktis memutus akses DJI ke pasar AS.
Larangan datang di saat industri humanoid China sedang di atas angin.
Dalam beberapa tahun, sektor ini tumbuh menjadi salah satu sektor strategis paling menjanjikan. Ada lebih dari 140 produsen dengan rantai pasok yang berkembang cepat. Laporan platform riset hukum LexisNexis yang rilis Selasa menyebut enam dari 10 startup humanoid teratas dunia berdasarkan kekuatan paten berasal dari China. Lima besar bahkan didominasi pabrikan China, baru disusul Figure AI dari San Jose dan Agile Robots dari Jerman.
Dominasinya terlihat di angka pengiriman. Tahun lalu, perusahaan China menyumbang 90 persen pengiriman humanoid global, menurut data Interact Analysis. Pesaing AS seperti Tesla dan Figure AI masih kesulitan masuk ke produksi massal. Ironisnya, AS yang jadi pasar konsumen terbesar di dunia juga merupakan tujuan ekspor terbesar untuk android buatan China tahun lalu.
Bulan lalu, Nvidia bahkan mengumumkan akan bermitra dengan Unitree, salah satu produsen humanoid top China, untuk riset dan pengembangan. Namun di bulan yang sama, Unitree ditetapkan pemerintah AS sebagai potensi risiko keamanan dengan koneksi ke militer China dan dilarang masuk kontrak apa pun dengan Departemen Pertahanan.
CNN menyebut telah menghubungi produsen top China termasuk Unitree, Agibot, UBTech, dan Galbot untuk komentar.
Respons Beijing keras.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Beijing konsisten menentang praktik AS yang menyalahgunakan konsep keamanan nasional untuk menekan perusahaan China. Ia berjanji akan mengambil langkah yang diperlukan untuk membela kepentingan mereka.
"Proteksionisme tidak akan meningkatkan daya saing AS; itu hanya akan merugikan kepentingan bisnis dan konsumen Amerika," kata Mao dalam konferensi pers Rabu.
Kementerian Perdagangan China pada Kamis menyebut langkah AS sebagai "unilateral bullying" dan "distorsi pasar", serta meminta Washington segera mencabut larangan atau menghadapi tindakan balasan.
Lalu seberapa besar dampaknya?
Soumen Mandal, analis utama di Counterpoint Research, menilai waktunya bukan kebetulan. Beberapa produsen humanoid China termasuk Unitree memang sedang bersiap IPO tahun ini. "Perusahaan AS seperti Tesla, Figure dan Boston Dynamics sangat diuntungkan dari berita ini," ujarnya.
Lian Jye Su, kepala analis AI dan robot humanoid di Omdia, melihat gangguan penjualan di AS dalam jangka pendek pasti ada. Tapi dampak keseluruhan kemungkinan minimal. Pasar sudah lama mengantisipasi ketegangan geopolitik ini.
"Mereka realistis tentang peluang di pasar AS dan larangan saat ini mencerminkan ekspektasi mereka," kata Su. Banyak vendor China kini melihat Eropa sebagai tujuan utama. "Mengingat kelangkaan alternatif saat ini, larangan ini tidak mungkin merusak lintasan pertumbuhan mereka."
Dengan kontrol AI model yang ketat di satu sisi dan larangan hardware humanoid di sisi lain, persaingan AS-China kini tidak lagi hanya soal siapa yang bikin model paling cerdas, tapi siapa yang menguasai wujud fisik AI tersebut.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda