AS Gempur Puluhan Sasaran IRGC di Iran, Konflik Meluas ke Irak dan Mesir dalam Semalam

Kairo — Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap puluhan sasaran milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) — termasuk pusat komando militer dan fasilitas drone — dalam operasi yang berlangsung sekitar dua jam. Serangan ini menjadi balasan langsung setelah Tehran menembakkan rudal balistik ke arah pasukan Amerika di Timur Tengah.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan lewat akun X pada malam 29 Juli waktu setempat bahwa operasi dimulai pukul 20.00 waktu Timur AS pada 29 Juli, atau pukul 08.00 waktu Singapura pada 30 Juli. Serangan itu digambarkan sebagai respons tegas atas upaya serangan Iran terhadap pasukan AS di kawasan pada 28 Juli.
CENTCOM menyebut sasaran yang dihantam mencakup pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, instalasi pengawasan dan pertahanan pesisir, hingga kemampuan maritim Iran. Tujuannya, menurut pernyataan itu, untuk terus melemahkan ancaman yang ditimbulkan Iran dan kelompok-kelompok proksinya terhadap pasukan AS, jalur pelayaran komersial, serta negara-negara Teluk tetangga.
Meski CENTCOM menyebut operasi ini sebagai "gelombang berat", belum ada indikasi bahwa serangan kali ini menyasar jembatan-jembatan penting atau infrastruktur sipil lain yang biasanya menandai perluasan besar kampanye militer AS. Media pemerintah Iran melaporkan tiga orang tewas akibat serangan AS di Pulau Qeshm.
Yang membuat 29 Juli terasa berbeda adalah munculnya eskalasi di banyak titik sekaligus. Sebelum serangan balasan AS ke Iran, sebuah drone menghantam kapal tangki penyimpanan gas milik AS di Pelabuhan Damietta, Mesir, menurut penilaian awal perusahaan keamanan maritim Ambrey. Di waktu yang hampir sama, pasukan AS dan Arab Saudi menyerang kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran di wilayah timur Irak, sementara Iran menembakkan rudal ke pasukan AS di Yordania.
Kementerian Perminyakan Mesir membenarkan adanya kebakaran di pelabuhan tersebut, tapi tidak menyebutkan soal serangan drone. Sampai saat ini belum jelas siapa yang bertanggung jawab.
Rentetan serangan di Irak dan Mesir ini berpotensi menyeret lebih banyak negara Timur Tengah ke dalam konflik — apalagi kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran pekan lalu sudah mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Serangan AS ke Iran pada 29 Juli terjadi setelah Presiden Donald Trump berjanji akan membalas serangan Iran terhadap pasukan AS. "Jadi sekarang giliran kami," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sembari tetap menegaskan Washington masih menargetkan kesepakatan damai dengan Tehran.
Iran, semalam sebelumnya, mengonfirmasi telah menembak pangkalan AS di Yordania dan kapal-kapal di Selat Hormuz. Tehran juga menolak proposal Oman untuk mengelola bersama selat tersebut — jalur pelayaran krusial bagi pasokan minyak dan gas dunia.
Perang antara AS dan Iran ini bermula pada Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman ke Iran yang saat itu diperkirakan Trump hanya berlangsung beberapa pekan. Kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni runtuh seiring memanasnya kembali pertempuran di sekitar selat tersebut — yang menurut klaim Iran kini berada di bawah kendalinya.
Harga minyak melonjak tajam pada 29 Juli, salah satu lonjakan paling tajam sejak lima bulan perang ini berlangsung. Harga berjangka minyak Brent naik lebih dari 8 persen dan menembus level di atas US$90 per barel, membalikkan sebagian besar penurunan tajam yang sempat terjadi awal pekan itu setelah Trump tanpa diduga menghentikan sementara serangan AS.
Serangan gabungan AS-Arab Saudi menjadi kali pertama Riyadh secara terbuka bergabung dalam serangan bersama Washington. Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (PMF), kelompok paramiliter berafiliasi Iran yang sudah terintegrasi ke aparat keamanan resmi Irak, menyatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka dalam serangan yang menyasar sejumlah pangkalan di seluruh negeri.
Sejumlah pria Irak meneriakkan "Matilah Amerika!" sambil mengangkut jenazah para pejuang yang tewas menggunakan kantong mayat. Washington dan Riyadh menyebut serangan ke kelompok bersenjata pro-Iran di Irak itu sebagai balasan atas serangan drone terhadap sasaran minyak Saudi yang diluncurkan dari wilayah Irak.
Setelah serangan gabungan tersebut, Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington pada 29 Juli untuk mendesak pemerintahan Trump tidak lagi memperluas konflik dengan menyerang Houthi di Yaman atau melancarkan serangan tambahan terhadap milisi pro-Iran di Irak, menurut dua sumber yang mengetahui pertemuan tersebut. Salah satu sumber menyebut eskalasi semacam itu berisiko membuka "risiko besar yang belum diketahui".
Sejumlah pejabat AS secara pribadi mengingatkan bahwa melanjutkan operasi tempur besar-besaran terhadap Iran membawa risiko tersendiri, mengingat dampaknya terhadap persediaan amunisi. Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), lembaga think-tank yang bermarkas di Washington, memperkirakan pekan ini bahwa militer AS memiliki kurang dari 1.000 rudal pencegat Patriot dan kurang dari 250 rudal pencegat THAAD — dua sistem pertahanan udara utama AS.
Iran membantah pasukannya mengarahkan serangan dari wilayah Irak. Namun surat kabar Iran, Hamshahri, melaporkan empat penasihat Korps Garda Revolusi Iran tewas dalam serangan ke Irak — meski sejumlah media lain menyebut angka yang sedikit berbeda, sehingga jumlah pastinya belum bisa dipastikan secara independen.
Serangan ke Irak ini menyingkap keretakan berbahaya di negara yang secara politik sangat rapuh itu. Pemerintah Irak yang dipimpin kelompok Syiah merupakan salah satu dari sedikit pemerintahan di dunia yang berusaha menyeimbangkan hubungan militer dan diplomatik erat dengan Tehran sekaligus Washington — sebuah posisi yang terus-menerus memicu ketegangan dan kerap memantik gejolak domestik.
Kantor Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, yang baru menjabat dua bulan, mendesak semua pihak menghindari eskalasi dan menegaskan keinginannya menjaga Irak tetap berada di luar konflik kawasan. Kepresidenan Irak sendiri mengecam serangan terhadap kelompok paramiliter itu sebagai "serangan yang tidak dapat diterima dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Irak", sembari juga menyerukan penghentian serangan oleh kelompok-kelompok bersenjata terhadap negara-negara tetangga Irak.
Kedekatan Iran dan Irak — dua negara berpenduduk mayoritas Syiah terbesar di dunia — tampak jelas pekan ini, ketika ratusan ribu peziarah Iran menuju sejumlah tempat suci di Irak untuk memperingati hari duka tahunan bagi para syuhada.
Beberapa jam sebelum melancarkan serangan ke Irak, militer AS mengaku berhasil menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukannya di kawasan. Militer Yordania menyatakan telah menembak jatuh lima rudal Iran. Pangkalan AS di Yordania belakangan memang menjadi sasaran utama Iran — tiga anggota militer AS tewas di sana pada Juli ini, kerugian terburuk AS sejak Maret.
Korps Garda Revolusi Iran mengaku telah menembakkan sejumlah rudal balistik ke instalasi militer AS di Yordania, serta menyerang tiga kapal tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz lewat jalur yang tidak diizinkan.
Berita ini disusun berdasarkan laporan Reuters per 29-30 Juli 2026, pernyataan resmi CENTCOM, serta konfirmasi silang dari sejumlah media internasional lain termasuk Al Jazeera dan CSIS. Sejumlah detail — seperti jumlah pasti penasihat Iran yang tewas di Irak dan pihak yang bertanggung jawab atas serangan drone di Damietta — masih berbeda antar-sumber atau belum terverifikasi secara independen.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda