AS Disebut Nyaris Habiskan Stok Rudal Setelah Hampir Lima Bulan Perang Lawan Iran

Militer Amerika Serikat dilaporkan sudah memakai hampir seluruh persediaan dua jenis rudal presisi jarak jauh andalannya selama konflik dengan Iran yang telah berjalan sejak akhir Februari 2026. Reuters melaporkan hal ini, Selasa (4/8/2026), berdasarkan keterangan tiga orang yang mengetahui data internal Angkatan Darat AS.
Dua rudal yang dimaksud adalah Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM) — senjata permukaan-ke-permukaan jarak jauh yang selama ini jadi tulang punggung kemampuan Angkatan Darat AS untuk menghantam sasaran dari jarak ratusan kilometer tanpa perlu menerbangkan pesawat berawak. Menurut sumber Reuters, stok kedua rudal itu sudah terkuras "hampir seluruhnya".
Laporan ini penting karena baru pertama kali terungkap ke publik seberapa dalam persediaan ATACMS dan PrSM sudah tergerus. Sejumlah pejabat AS khawatir kondisi ini bisa mempersulit kesiapan militer merespons krisis di kawasan lain, termasuk potensi konfrontasi dengan Tiongkok atau Rusia di masa depan.
Konflik AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026, dipicu serangan udara dan rudal gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir, instalasi militer, dan jajaran pimpinan Iran. Sejak saat itu, pertempuran berulang kali diselingi gencatan senjata rapuh yang runtuh dalam hitungan minggu, terakhir setelah kesepakatan yang dicapai Juni lalu kembali pecah pada Juli. Hingga awal Agustus, konflik sudah berlangsung hampir lima bulan tanpa tanda-tanda penyelesaian permanen.
Selama periode itulah Angkatan Darat AS disebut terus-menerus menembakkan ATACMS dan PrSM ke sasaran-sasaran di dalam wilayah Iran.
Bantahan dari Gedung Putih dan Pentagon
Presiden Donald Trump membantah anggapan bahwa militer AS kekurangan senjata. Dalam pernyataan yang disampaikan ke Fox News Digital, Trump mengklaim AS masih memiliki amunisi jauh lebih banyak dibanding negara mana pun di dunia, dan menyebut sebagian besar rudal yang selama ini diberikan cuma-cuma kepada Ukraina dan Eropa di era pemerintahan Joe Biden sebagai kebijakan yang keliru.
Trump menambahkan, perusahaan-perusahaan pertahanan AS saat ini sedang memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah dicapai sebelumnya sembari memperluas kapasitas pabrik mereka.
Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell, juga menepis laporan tersebut. Ia menegaskan militer AS tetap merupakan yang terkuat di dunia dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk beroperasi kapan pun dan di mana pun sesuai arahan presiden, sambil menyebut pihaknya telah menjalankan sejumlah operasi lintas komando dengan sukses.
Kendati begitu, angka pasti sisa stok rudal AS tetap dirahasiakan dengan alasan keamanan nasional, sehingga publik — termasuk Reuters sendiri — tidak bisa memverifikasi secara independen seberapa besar penyusutannya.
Laporan Reuters ini sejalan dengan temuan sejumlah analis independen. Center for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga riset kebijakan luar negeri yang berbasis di Washington, memperkirakan stok pencegat Patriot milik AS sudah terpakai sekitar 65 persen sejak Februari, dari sekitar 2.330 unit sebelum perang menjadi tinggal ratusan unit saat ini.
Persediaan pencegat THAAD, sistem pertahanan rudal balistik kelas tertinggi AS, diperkirakan berkurang sedikitnya 38 persen dari sekitar 452 unit sebelum konflik.
Reuters menyebut sumber-sumbernya membenarkan bahwa perkiraan CSIS itu selaras dengan data internal AS. Selain Patriot dan THAAD, stok rudal jelajah Tomahawk disebut juga sudah terpakai hampir separuh dari total persediaan global, meski angka ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh Reuters.
ATACMS dan PrSM masuk kategori senjata serang jarak jauh, dipakai untuk menghantam pos komando, pertahanan udara, dan pusat logistik musuh dari luar jangkauan banyak sistem pertahanan udara lawan.
PrSM adalah generasi lebih baru dengan jangkauan lebih jauh, sementara Angkatan Darat AS sendiri sudah menyatakan tengah menghentikan produksi ATACMS dan mengalihkan jalur produksinya ke PrSM.
Patriot dan THAAD punya fungsi berbeda: keduanya adalah sistem pertahanan yang bertugas mencegat rudal balistik yang mengarah ke pasukan atau sekutu AS, bukan menyerang. Sementara itu, Tomahawk memungkinkan Angkatan Laut AS melancarkan serangan jarak jauh dari kapal perang maupun kapal selam.
Kondisi ini mempercepat langkah Pentagon memadukan rudal presisi yang mahal dengan drone dan sistem otonom berbiaya rendah yang bisa diproduksi cepat dan digunakan dalam jumlah besar. Pendekatan ini dimaksudkan agar rudal presisi bernilai jutaan dolar bisa disimpan untuk sasaran paling penting, sementara tugas pengintaian dan sebagian misi serangan diserahkan ke sistem yang lebih murah.
Meski begitu, sejumlah pejabat militer menegaskan drone murah belum bisa menggantikan sepenuhnya peran ATACMS maupun PrSM untuk menghantam sasaran yang dijaga ketat di jarak yang belum terjangkau banyak drone.
Trump sendiri berulang kali bertemu petinggi kontraktor pertahanan AS untuk mendesak percepatan produksi. Usai pertemuan di Gedung Putih pada Maret lalu, ia mengklaim para produsen senjata sepakat melipatgandakan produksi empat kali lipat untuk sejumlah sistem rudal tercanggih.
Prioritas ini juga tecermin dalam usulan anggaran pertahanan AS senilai 1,5 triliun dolar AS, yang mengalokasikan kenaikan signifikan untuk produksi drone dan sistem otonom, sekaligus memperbesar investasi pada produksi amunisi, sistem pertahanan rudal, dan pengadaan Tomahawk.
Sampai saat ini belum ada kepastian kapan konflik AS-Iran akan benar-benar berakhir, sementara perdebatan di Washington soal batas waktu operasi militer tanpa persetujuan Kongres juga masih berlangsung.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda