Militer Arab Saudi menuding Iran berada di balik serangan terhadap fasilitas minyak milik Saudi Aramco yang terjadi pada Sabtu, 14 September 2019. Pihak Arab Saudi menyatakan hasil penyelidikan awal menunjukkan serangan dilakukan menggunakan senjata buatan Iran.
Serangan drone dan rudal itu menghantam dua fasilitas pengolahan minyak di wilayah timur Arab Saudi, Abqaiq dan Khurais. Serangan tersebut melumpuhkan produksi minyak mentah Arab Saudi sebesar 5,7 juta barel per hari — sekitar setengah dari total produksi kerajaan, atau setara sekitar 5 persen pasokan minyak mentah dunia.
Senjata Iran, bukan dari Yaman
Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Kolonel Turki al-Malki, mengatakan bukti yang ditemukan di lokasi menunjukkan teknologi drone dan rudal Iran digunakan dalam serangan tersebut. Ia menegaskan serangan tidak berasal dari Yaman, sebagaimana diklaim pemberontak Houthi.
"Serangan diluncurkan dari utara dan tanpa keraguan didukung oleh Iran," kata Malki dalam konferensi pers di Riyadh.
Kelompok Houthi di Yaman sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dengan menyebutnya sebagai operasi besar-besaran menggunakan sepuluh drone. Namun pejabat Amerika Serikat menyatakan tidak ada bukti serangan berasal dari Yaman. Menteri Luar Negeri AS kala itu, Mike Pompeo, bahkan menyebut serangan itu sebagai "tindakan perang". Iran membantah seluruh tuduhan tersebut.
Harga minyak terancam melambung
Gangguan pasokan sebesar 5,7 juta barel per hari tercatat sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dunia dapat menembus 85 dolar AS per barel jika Arab Saudi membalas serangan tersebut, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Serangan ini terjadi hanya beberapa bulan sebelum rencana penawaran saham perdana (IPO) Aramco, perusahaan minyak paling berharga di dunia.
Sumber: Geram! Arab Saudi Tuding Iran Dalang Serangan Ke Aramco — YouTube - CNBC Indonesia


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda