Breaking
Memuat breaking news...

Apple Kini Bisa Disewa: iPhone, Mac, dan iPad Pakai Skema "Apple Upgrade" Gandeng Klarna

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 3.13 PM WIB
Apple Kini Bisa Disewa: iPhone, Mac, dan iPad Pakai Skema "Apple Upgrade" Gandeng Klarna
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Kalau selama ini orang terbiasa menyewa mobil atau apartemen, sekarang giliran iPhone yang bisa didapat dengan cara serupa. Apple resmi membuka opsi sewa untuk sejumlah produk andalannya mulai Selasa, 28 Juli 2026, di Amerika Serikat, lewat program bernama Apple Upgrade.

Catatan: seluruh angka rupiah dalam artikel ini adalah konversi kasar berdasarkan kurs sekitar Rp18.050 per dolar AS (akhir Juli 2026), hanya untuk memberi gambaran skala harga. Program Apple Upgrade sendiri baru tersedia di Amerika Serikat dan transaksinya tetap memakai dolar AS.

Program ini bukan hasil kerja sendiri. Apple menggandeng Klarna, perusahaan pembayaran asal Swedia yang selama ini dikenal lewat skema beli-sekarang-bayar-nanti. Konsumen bisa mendaftar melalui toko online Apple, aplikasi Apple Store, maupun gerai ritel Apple di seluruh AS.

Skemanya sederhana: bayar bulanan, bukan langsung lunas di muka. Untuk iPhone dan Apple Watch, masa sewanya 12 atau 24 bulan. Mac dan iPad punya durasi lebih panjang, yaitu 24 atau 36 bulan.

Soal harga, Apple memberi rentang yang cukup lebar tergantung model. Di situs resminya, cicilan iPhone 17e—model termurah dalam program ini—mulai dari 17,99 dolar AS (sekitar Rp325 ribu) per bulan untuk masa sewa 24 bulan. iPhone 17 biasa dipatok mulai 22,99 dolar (sekitar Rp415 ribu), iPhone Air mulai 28,99 dolar (sekitar Rp523 ribu), sementara iPhone 17 Pro yang paling mahal mulai 31,99 dolar (sekitar Rp577 ribu) per bulan.

Untuk lini Mac, MacBook Air jadi yang termurah dengan cicilan mulai 24,99 dolar (sekitar Rp451 ribu) per bulan untuk 36 bulan, disusul iMac di kisaran 28,99 dolar (sekitar Rp523 ribu), MacBook Pro mulai 38,99 dolar (sekitar Rp704 ribu), dan Mac Studio yang paling premium mulai 48,99 dolar (sekitar Rp884 ribu). Sedangkan iPad Pro mulai 24,99 dolar (sekitar Rp451 ribu), iPad Air 15,99 dolar (sekitar Rp289 ribu), dan iPad mini yang termurah mulai 11,99 dolar (sekitar Rp216 ribu) per bulan.

Tidak ada uang muka dalam skema ini. Klarna juga tidak mengenakan bunga atau biaya tambahan di atas cicilan bulanan—asalkan perangkat dikembalikan dalam kondisi baik saat masa sewa berakhir. Kalau ingin memilikinya secara permanen, konsumen tinggal membayar sisa selisih harga di akhir periode sewa.

Menariknya, program ini hanya berlaku untuk lini premium terbaru. Berdasarkan halaman resmi Apple, produk yang bisa disewa mencakup seluruh model iPhone kecuali iPhone 16, lalu MacBook Air, MacBook Pro, iMac, Mac Studio, iPad Pro, iPad Air, iPad mini, Apple Watch Series 11, dan Apple Watch Ultra 3.

Artinya, iPhone 16 secara eksplisit dikecualikan meski masih dijual Apple. Model-model entry level lain di luar daftar tersebut—termasuk varian iPad dan Apple Watch yang lebih murah—juga belum bisa diakses lewat skema sewa ini. Pilihan ini masuk akal secara bisnis: Apple tampaknya ingin mendorong pembeli ke arah perangkat dengan margin lebih tinggi, bukan produk yang harganya memang sudah murah dari sananya.

Apple Upgrade menggantikan iPhone Upgrade Program, skema lama yang memungkinkan pengguna berganti iPhone setiap 12 kali cicilan lewat pinjaman dari Citizens Bank. Program itu, bersama iPhone Payments, resmi dihentikan bersamaan dengan peluncuran Apple Upgrade.

Selisih biayanya lumayan jauh. iPhone Upgrade Program sebelumnya dibanderol lebih dari 42 dolar per bulan (sekitar Rp758 ribu), itu pun sudah termasuk AppleCare+. Di skema baru, AppleCare justru tidak otomatis termasuk—harus ditambah terpisah kalau pengguna mau perlindungan ekstra. Meski begitu, angka awal yang jauh lebih rendah membuat Apple Upgrade terlihat lebih ringan di kantong, setidaknya di atas kertas.

Ada dua tekanan yang tampaknya mendorong lahirnya program ini. Pertama, kebiasaan konsumen sudah berubah. Rata-rata pengguna di AS kini memegang ponselnya selama 22 bulan, menurut survei Reviews.org tahun lalu—jauh lebih lama dibanding kebiasaan ganti tahunan yang dulu jadi andalan Apple.

Kedua, harga perangkat justru sedang naik. Bulan lalu, Apple menaikkan harga sejumlah model Mac dan iPad akibat kelangkaan chip memori global, yang dipicu lonjakan permintaan dari industri pusat data. Kondisi ini membuat Apple perlu cara baru agar produknya tetap terasa terjangkau, meski harga aslinya terus merangkak naik.

Francisco Jeronimo, analis dari International Data Corporation (IDC), melihat pergeseran ini sebagai upaya Apple mengubah cara pandang konsumen terhadap produknya—dari pembelian besar sekali bayar, menjadi semacam langganan bulanan yang terasa lebih ringan. Menurutnya, langkah ini juga berisiko jika harga terus naik lebih jauh, karena bisa memengaruhi siklus upgrade pelanggan. "Apple Upgrade lands at precisely the moment Apple needs it," katanya, merujuk pada momentum peluncuran program ini.

Analis lain, Jitesh Ubrani dari IDC, menilai skema pembayaran bulanan semacam ini efektif menyamarkan dampak kenaikan harga perangkat, sekaligus membuat produk premium tetap terasa terjangkau bagi lebih banyak konsumen. Sementara analis dari Techsponential, Avi Greengart, mengingatkan bahwa skema sewa tetap punya konsekuensi: pengguna tidak benar-benar memiliki perangkatnya selama masa sewa, dan pembayaran yang sudah dikeluarkan tidak otomatis mengarah ke kepemilikan kalau di akhir periode memilih mengembalikan unit.

Waktu peluncuran Apple Upgrade juga tidak sembarangan. Program ini hadir menjelang jadwal peluncuran iPhone generasi baru yang diperkirakan berlangsung September mendatang. Berdasarkan laporan Bloomberg, salah satu produk yang ditunggu adalah iPhone lipat pertama Apple, yang disebut-sebut bakal menjadi iPhone termahal yang pernah dijual perusahaan itu, dengan harga diperkirakan menembus di atas 2.000 dolar AS, atau sekitar Rp36,1 juta ke atas kalau memakai kurs saat ini.

Analis dari TechInsights, Mike Howard, bahkan menyebut konsumen perlu mulai membiasakan diri dengan kisaran harga iPhone yang lebih tinggi dari sebelumnya, jauh di atas rentang 1.000 hingga 1.200 dolar (sekitar Rp18 juta hingga Rp21,7 juta) yang selama ini jadi patokan umum—bergeser ke arah 1.500 dolar, atau kira-kira Rp27,1 juta. Belum ada konfirmasi resmi dari Apple soal harga pasti perangkat barunya, sehingga angka-angka tersebut masih bersifat perkiraan dari kalangan analis dan laporan media.

Bagi konsumen di AS, Apple Upgrade memberi jalan tengah: tetap bisa memakai perangkat terbaru tanpa harus membayar penuh di muka, dengan konsekuensi tidak memiliki perangkat tersebut selama masa sewa berjalan. Untuk saat ini, program tersebut baru tersedia di Amerika Serikat, dan belum ada keterangan resmi mengenai rencana perluasan ke pasar lain, termasuk Indonesia.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait