Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke titik terendahnya dalam 10 tahun terakhir. Sejak pembukaan perdagangan Senin pagi (19/10/2026), indeks merosot 5,18 persen ke level 4.916,60.
Berdasarkan data Stockbit, posisi IHSG saat ini setara dengan level indeks pada 6 Juli 2015 silam yang berada di 4.916,74. Pada era yang sama, IHSG juga pernah terperosok di awal pandemi Covid-19, yakni anjlok 5,01 persen ke 4.895,75 pada 12 Maret 2020.
Mundur lebih jauh, level IHSG hari ini juga setara dengan rekor tertinggi (all time high) yang pernah dicapai di akhir masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 2 April 2013, IHSG menguat 0,40 persen ke level 4.919,43.
Hingga pukul 11.30 WIB, IHSG tercatat berada di level 4.922,17. Sepanjang tahun 2026, indeks sudah terkoreksi 43,09 persen, dengan kapitalisasi pasar bursa saham RI kini sebesar Rp 8.736,59 triliun.
Efek Pengumuman MSCI
Anjloknya IHSG hari ini merupakan kelanjutan dari respons pasar terhadap pengumuman MSCI pada Jumat lalu. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih rawan terkoreksi.
"Untuk Senin, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support 5.092 dan resist 5.295," ungkapnya kepada detikcom, Minggu (18/10/2026).
MNC Sekuritas mencatat tiga sentimen yang akan memengaruhi gerak IHSG, yaitu respons lanjutan terhadap proposal MSCI, posisi rupiah yang cenderung tertekan terhadap dolar AS, serta rilis data produk domestik bruto (PDB) China yang akan dicermati investor.
"Apabila menguat maka implikasinya ke Indonesia dapat dikatakan positif bagi komoditas," jelasnya.
Sumber: Detik.com


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda