Breaking
Memuat breaking news...

Ambisi Trump atas Greenland Ternyata Berujung ke Ladang Minyak, tapi Pengeborannya Kini Tertunda

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 15 Agustus 2026 - 7.24 AM WIB
Ambisi Trump atas Greenland Ternyata Berujung ke Ladang Minyak, tapi Pengeborannya Kini Tertunda
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Sejak awal tahun, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan keinginannya membawa Greenland — wilayah milik Denmark — ke pangkuan Amerika Serikat, bahkan sempat mengancam tarif impor besar jika Denmark menolak. Ia kembali menyinggung soal ini pada Juli lalu. Data terbaru pekan ini menunjukkan salah satu alasan di balik ambisi tersebut: minyak.

Perusahaan Texas yang Bersiap Mengebor di Greenland

Greenland Energy Co, perusahaan eksplorasi minyak dan gas asal Texas yang tercatat di bursa Nasdaq, berencana mengebor potensi hidrokarbon di Jameson Land Basin, kawasan di pesisir timur Greenland. Perusahaan ini memiliki hubungan dengan lingkaran Presiden Trump.

Proyek pengeboran dijalankan bersama mitra usaha patungan bernama 80 Mile, yang tercatat di bursa London. Sementara itu, biaya pengelolaan dua sumur eksplorasi ditanggung Greenland Energy, sedangkan urusan perizinan diserahkan ke anak usahanya, White Flame Energy.

Jejak Koneksi ke Lingkaran Trump

Sejumlah nama di balik Greenland Energy punya kaitan dengan pemerintahan Trump. Salah satu anggota dewannya, Carol Craig, adalah pendiri perusahaan teknologi pertahanan yang ikut menggarap kontrak Pentagon untuk sistem pertahanan rudal Golden Dome besutan Trump.

Perusahaan ini juga memiliki kesepakatan produksi film dokumenter dengan Envoy Media, milik "Dr. Phil" McGraw — sosok yang pernah tampil dalam kampanye Trump 2024 dan kini duduk di Religious Liberty Commission bentukan Trump.

Chairman Greenland Energy, Larry Swets, disebut-sebut dekat dengan pemerintahan Trump. Namun saat ditanya soal hubungan itu dalam sebuah pertemuan Juni lalu, CEO Greenland Energy Robert Price membantahnya, mengaku tidak mengetahui adanya kedekatan tersebut.

Pengeboran Mendadak Tertunda

Rencana pengeboran kini tertunda setelah pemerintah Greenland melayangkan teguran keras. Masalahnya bermula ketika White Flame Energy membawa peralatan pengeboran ke pesisir timur Greenland, tepatnya ke area sekitar Bandara Nerlerit Inaat — pintu gerbang transportasi strategis menuju wilayah timur laut Greenland — tanpa izin dari otoritas setempat.

Greenland Energy dan 80 Mile mengaku sebelumnya sudah mengantongi izin dan kontrak sewa gudang penyimpanan di fasilitas Greenland Airports dekat pelabuhan. Namun keduanya mengklaim tidak menyadari bahwa aktivitas tersebut ternyata membutuhkan izin terpisah dari otoritas sumber daya mineral. Kedua perusahaan menyatakan akan menanggapi teguran itu dengan serius dan berkomitmen mempererat koordinasi dengan otoritas Greenland ke depan.

Pada 13 Agustus, kabar penundaan pengeboran resmi mencuat. Greenland Energy kini menargetkan proses perizinan pengeboran eksplorasi baru rampung menjelang musim dingin 2027. Menurut CEO Robert Price, beroperasi di kawasan Arktik menuntut kesabaran dan perspektif jangka panjang, sehingga waktu tunda ini akan dipakai untuk menyempurnakan rencana serta memperkuat hubungan dengan masyarakat lokal dan otoritas terkait.

Seberapa Besar Potensi Minyak Greenland?

Greenland Energy terbentuk lewat merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC) pada Maret, dengan misi utama menggarap potensi minyak di Jameson Land Basin — kawasan seluas sekitar 2 juta acre atau 809.000 hektare lahan berizin di daratan Greenland. Perusahaan menyebutnya sebagai salah satu cekungan minyak paling prospektif di dunia yang belum pernah dibor, dengan karakteristik geologi yang dinilai sebanding dengan Laut Utara.

Lewis Lawrence, analis riset senior sektor hulu Eropa di Wood Mackenzie, membenarkan potensi tersebut. Ia menyebut kondisi geologi Jameson Land Basin mirip dengan landas kontinen Norwegia bagian tengah, salah satu pusat aktivitas minyak dan gas dunia.

Meski begitu, sejarah eksplorasi di Greenland belum pernah membuahkan hasil. Lawrence mencatat setidaknya 21 sumur eksplorasi pernah dibor di sana, sebagian besar di lepas pantai, dan tak satu pun berhasil menemukan cadangan yang layak dikembangkan. "Ratusan juta dolar telah terbuang, terutama untuk pengeboran lepas pantai yang jauh lebih mahal," katanya kepada CNBC International.

Selain risiko eksplorasi yang tinggi, proyek ini juga dibayangi tantangan logistik besar — Jameson Land Basin dikenal sebagai salah satu lokasi pengeboran paling terpencil di dunia.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait