Breaking
Memuat breaking news...

Agen FBI Didakwa Curi Hampir Rp16 Miliar Kripto, Sempat bertanya ke ChatGPT Cara Untuk Kabur

Redaksi
Redaksi
Selasa, 4 Agustus 2026 - 9.00 AM WIB
Agen FBI Didakwa Curi Hampir Rp16 Miliar Kripto, Sempat bertanya ke ChatGPT Cara Untuk Kabur
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Seorang agen FBI dengan izin akses rahasia tingkat tinggi (top secret) didakwa mencuri hampir US$1 juta dalam bentuk mata uang kripto dari dompet digital yang justru sedang dipantau oleh lembaga tempatnya bekerja. Menurut dokumen pengadilan yang dipublikasikan Senin (3/8), agen bernama Patrick Steven Yaroch itu mengaku kepada penyidik bahwa aksinya dipicu rasa frustrasi karena FBI dinilainya tidak—atau tidak mau—bertindak tegas terhadap penyalahgunaan akun kripto oleh pihak yang dicurigai berafiliasi dengan negara musuh.

Memanfaatkan Akses Kerja untuk Kepentingan Pribadi

Yaroch, yang berdinas di kantor FBI Ashburn, Virginia, sebelumnya bertugas di unit investigasi keamanan nasional Divisi Boston, dengan fokus pada isu kontraintelijen dan spionase. Menurut sumber yang mengetahui persoalan ini kepada NBC News, negara yang dimaksud dalam kasus ini adalah Rusia.

Berdasarkan afidavit penangkapan, Yaroch memanfaatkan akses sistem internal FBI untuk memperoleh sekaligus menghafal passphrase—semacam kata kunci utama yang membuka akses ke dompet kripto tertentu—yang sedianya digunakan lembaga untuk memantau aktivitas keuangan pihak yang dicurigai. Dari sana, ia disebut melakukan 10 hingga 12 kali transfer dana ke dompet pribadinya sendiri, dimulai sejak akhir 2024 hingga pertengahan 2026, dengan total nilai yang terus membengkak hingga mendekati US$1 juta.

Terbongkar Usai Mengaku ke Rekan Kerja

Skema ini akhirnya terbongkar setelah Yaroch mengaku kepada seorang rekan kerja pada 28 Juli lalu. Menurut afidavit, ia menyebut dirinya "telah membuat kesalahan besar" saat diwawancarai penyidik di rumahnya bulan lalu.

Berbekal pengakuan itu, agen federal menggeledah kediaman Yaroch di Ashburn pada 31 Juli. Dari penggeledahan tersebut, otoritas menyita sekitar US$925.426 dalam bentuk aset kripto dan uang tunai dari berbagai dompet digital dan rekeningnya, sebuah dompet perangkat keras (hardware wallet) merek Trezor, catatan tulisan tangan berisi seed phrase atau kata kunci pemulihan dompet kripto, sejumlah perangkat elektronik, paspor pribadi dan diplomatiknya, hingga dokumen terkait surat kuasa (power of attorney) yang berkaitan dengan Portugal. FBI langsung memecat Yaroch dan menangkapnya pada hari yang sama.

Ia kini didakwa dengan dua pasal federal: pengangkutan barang curian antarnegara bagian, serta penerimaan barang curian. Seorang hakim magistrat federal di Distrik Timur Virginia telah memerintahkan penahanan sementara terhadap Yaroch, dengan sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung Selasa ini (4/8). Perlu digarisbawahi, seluruh dakwaan ini masih berstatus tuduhan yang belum diuji dan diputus di persidangan. Pembela umum federal yang mewakili Yaroch menolak memberikan komentar saat dimintai tanggapan media.

Konsultasi ke ChatGPT soal Rencana Hijrah ke Eropa

Salah satu detail yang cukup mencolok dari kasus ini adalah bagaimana kecerdasan buatan ikut terekam dalam jejak digital Yaroch. Sebulan sebelum penangkapannya, ia dilaporkan bertanya kepada ChatGPT soal strategi jika memiliki dana sekitar US$1 juta dan ingin pindah menjadi penduduk atau warga negara di salah satu negara Uni Eropa.

Menurut afidavit, ChatGPT memberikan jawaban yang disesuaikan dengan profil usia dan gaya hidupnya, menyinggung kemungkinan pensiun dini di usia 40-an serta minatnya membangun kehidupan yang lebih tenang di kawasan pedesaan penghasil anggur, seperti wilayah Cilento di Italia atau Dão di Portugal. Penyidik juga menemukan bukti rencana perjalanan keluarga ke Portugal yang dijadwalkan berlangsung September 2026, meski Yaroch membantah berniat memindahkan dananya ke negara tersebut saat dikonfrontasi penyidik.

Bagian dari Rentetan Kasus Korupsi di Lingkaran Intelijen AS

FBI, lewat juru bicaranya, menegaskan telah bertindak cepat begitu mengetahui dugaan pelanggaran ini—langsung memulai penyelidikan internal, memecat yang bersangkutan, dan mengeksekusi surat perintah penangkapan pekan lalu. Lembaga itu menyebut perilaku semacam ini "tidak bisa ditoleransi" dan menegaskan standar etika tertinggi berlaku bagi seluruh pegawainya.

Kasus Yaroch menambah daftar panjang skandal korupsi yang belakangan mencoreng komunitas intelijen Amerika Serikat. Juni lalu, pejabat CIA David Rush juga ditangkap dengan tuduhan menggelapkan dana lebih dari US$40 juta, yang menurut penyidik dikonversi menjadi batangan emas dan jam tangan mewah.

Kasus semacam ini juga menyingkap dilema yang selama ini jarang terekspos ke publik: FBI mengumpulkan begitu banyak intelijen soal akun kripto yang diduga dipakai aktor kriminal maupun negara, termasuk Rusia dan Tiongkok, namun keputusan kapan dan bagaimana bertindak terhadap akun-akun tersebut—apakah disita langsung atau justru terus dipantau demi mengumpulkan intelijen lebih lanjut—kerap ditentukan kasus per kasus.

Celah keputusan semacam inilah yang, menurut dakwaan terhadap Yaroch, akhirnya ia manfaatkan sendiri demi keuntungan pribadi.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait