JAKARTA — Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau berdampak pada 2.961 penerbangan domestik dan internasional, serta membuat sekitar 341.000 penumpang terdampar hingga Senin sore, menyusul diperpanjangnya penutupan tujuh bandara di wilayah terdampak.

"Sampai dengan Senin sore, 2.961 penerbangan terdampak perubahan operasional bandara akibat sebaran abu vulkanik, terdiri dari 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional," kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam keterangannya, Senin (7/9). Gangguan tersebut mencakup pembatalan, penundaan, dan pengalihan rute penerbangan.

Tujuh Bandara Ditutup hingga Tengah Malam

Menanggapi bahaya keselamatan yang ditimbulkan abu vulkanik, Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan tujuh bandara terdampak hingga Senin pukul 23.59 WIB. Bandara-bandara yang ditutup ini tersebar di Jawa dan Sumatra, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta; Bandara Radin Inten II dan Bandara Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung; Bandara Pondok Cabe dan Bandara Budiarto di Banten; serta Bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat.

Dudy menegaskan bahwa perpanjangan penutupan ini merupakan langkah konservatif demi menjaga keselamatan penerbangan, mengingat kondisi angin yang sangat dinamis dan berpotensi membawa sebaran abu vulkanik. "Kami mengambil pendekatan konservatif karena kondisi angin sangat dinamis. Kami ingin memastikan abu vulkanik menjauh dari bandara-bandara di sekitar Gunung Anak Krakatau," ujarnya.

Hasil Uji Awal Negatif, tapi Tetap Tunggu Lampu Hijau dari Darwin

Meski uji lapangan awal terhadap endapan abu di sejumlah fasilitas sisi udara (airside) beberapa bandara menunjukkan hasil negatif, otoritas memastikan bandara-bandara tersebut akan tetap ditutup sampai ada kepastian resmi dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) di Darwin, Australia — lembaga pemantau resmi untuk wilayah regional ini.

Penutupan sementara ini juga dimanfaatkan otoritas penerbangan dan maskapai komersial untuk menjalankan protokol keselamatan penting. Kru darat bandara tengah memeriksa dan membersihkan infrastruktur sisi udara, termasuk landasan pacu, taxiway, dan apron, sementara maskapai melakukan inspeksi wajib untuk memastikan mesin dan badan pesawat bebas dari partikel abu vulkanik.

"Kami memastikan semuanya berjalan lancar, dan kami tidak ingin mengabaikan aspek keselamatan," tegas Dudy.

Menunggu Kepastian Kapan Penerbangan Bisa Normal Kembali

Kementerian Perhubungan bersama otoritas penanggulangan bencana daerah terus memantau pembaruan advisory dari VAAC untuk menentukan kapan lalu lintas udara bisa kembali normal secara aman. Dudy kembali menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan publik tetap menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menangani dampak erupsi ini.