JAKARTA — Indeks MSCI World merupakan salah satu indeks pasar saham terbesar di dunia sekaligus yang paling populer di kalangan investor pasif. Indeks ini menjadi tolok ukur pasar saham global dengan saham-saham dari 23 negara maju. Namun, di balik popularitas dan penggunaannya yang luas, terdapat sejumlah kesalahpahaman yang dapat menyesatkan investor mengenai tujuan dan keterbatasan indeks tersebut.
Kreator konten finansial René Sellmann dalam sebuah video mengurai lima kesalahpahaman tersebut agar investor dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam memilih strategi dan tujuan investasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Berikut uraiannya.
1. MSCI World dianggap bebas risiko
Kesalahpahaman pertama adalah anggapan bahwa MSCI World tidak memiliki risiko. Faktanya, indeks ini pernah mengalami periode penurunan (drawdown) terpanjang selama 13 tahun 2 bulan, yakni antara Agustus 2000 hingga Oktober 2013, dengan penurunan maksimum mencapai 54 persen dari titik puncak ke titik terendah.
Analisis probabilitas imbal hasil menunjukkan peluang meraih hasil positif baru menembus angka 90 persen apabila horizon investasi diperpanjang hingga 10 tahun atau lebih. Artinya, MSCI World tidak kebal terhadap gejolak pasar dan investor perlu menyiapkan mental menghadapi fluktuasi jangka pendek.
2. Rasa nyaman yang berlebihan
Kesalahpahaman kedua lebih bernuansa psikologis. Banyak investor yang sudah rutin menabung di ETF merasa nyaman, bahkan terlalu nyaman. Sebagai contoh, seseorang yang menabung 300 euro per bulan ke indeks MSCI World merasa sudah berbuat cukup untuk masa pensiun, padahal jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan penghasilannya.
Akibatnya, mereka berhenti belajar, berhenti menambah porsi investasi, dan tidak pernah berani menempatkan dana dalam jumlah besar ke pasar saham karena tidak benar-benar memahami apa yang mereka beli.
3. Bukan instrumen yang cocok untuk semua orang
Janji industri ETF bahwa cukup berinvestasi selama 30 tahun maka seseorang pasti menjadi kaya juga menyesatkan. Sebagai ilustrasi, menabung 100 dolar AS per bulan selama 30 tahun berturut-turut akan menghasilkan akumulasi sekitar 149 ribu dolar AS. Jumlah tersebut memang lumayan, tetapi belum tentu cukup untuk hidup bebas finansial, apalagi setelah memperhitungkan inflasi.
Untuk benar-benar mencapai kebebasan finansial, investor perlu bekerja keras, rutin menginvestasikan dana dalam jumlah besar dalam jangka panjang, berupaya menaikkan penghasilan, dan mengejar imbal hasil di atas 8 persen per tahun.
4. Tidak ada investasi yang benar-benar pasif
Pada kenyataannya, tidak ada investasi yang sepenuhnya pasif karena setiap keputusan investasi selalu mengandung unsur aktif. Banyak ETF justru melibatkan keputusan manajemen portofolio yang sangat aktif, termasuk menambah atau mengeluarkan saham-saham tertentu dari indeks secara berkala.
Selain itu, dengan memilih MSCI World, investor sejatinya membuat dua keputusan aktif sekaligus. Pertama, memilih eksposur ke pasar negara maju, terutama Amerika Serikat. Berbeda dari anggapan umum, MSCI World tidak mencakup seluruh pasar saham dunia karena tidak memuat emerging markets; sekitar 68 persen bobot indeks diisi perusahaan yang tercatat di AS. Kedua, memilih eksposur besar ke saham berkapitalisasi jumbo: 10 konstituen teratas mewakili sekitar 18 persen indeks dan semuanya berkapitalisasi pasar di atas 100 miliar dolar AS.
Dengan demikian, MSCI World memang memberikan diversifikasi, tetapi bukan diversifikasi yang absolut.
5. Indeks ikut menampung bisnis berkualitas rendah
Dengan lebih dari 1.500 emiten berkapitalisasi besar dan menengah dari 23 negara maju, indeks ini memang unggul dari sisi diversifikasi. Namun di sisi lain, investor tanpa sadar ikut memiliki eksposur ke bisnis-bisnis berkualitas rendah.
Imbal hasil saham-saham individual di dalam sebuah indeks yang luas terdistribusi miring positif (positively skewed): hanya segelintir saham yang benar-benar berkontribusi signifikan terhadap total imbal hasil indeks. Riset Profesor Hendrik Bessembinder dari Arizona State University dalam paper berjudul Do Stocks Outperform Treasury Bills? yang terbit di Journal of Financial Economics (2018) menemukan bahwa 4 persen perusahaan berkinerja terbaik menjelaskan seluruh keuntungan bersih pasar saham AS sejak 1926, sementara saham-saham lainnya secara kolektif hanya menyamai imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury bills).
Sebagai penutup, video tersebut menyarankan strategi ganda: alokasikan sebagian dana secara pasif ke ETF seperti MSCI World, dan gunakan sebagian lainnya untuk saham-saham individual berfundamental kuat, misalnya perusahaan dengan imbal hasil atas modal yang tinggi, neraca keuangan yang sehat, prospek pertumbuhan yang panjang, serta valuasi awal yang wajar.
Sumber: MSCI World Index: 99% of Investors Get THIS Wrong! — René Sellmann


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda