Qaplo – Dalam perkembangan yang mengejutkan, penjualan properti mewah di Manhattan melonjak dalam sebulan terakhir, berlawanan dengan prediksi bahwa pajak baru pied-à-terre akan membuat para pembeli kaya menjauh. Berdasarkan data dari
Qaplo – Dalam perkembangan yang mengejutkan, penjualan properti mewah di Manhattan melonjak dalam sebulan terakhir, berlawanan dengan prediksi bahwa pajak baru pied-à-terre akan membuat para pembeli kaya menjauh. Berdasarkan data dari Olshan Realty, sebanyak 133 kontrak apartemen mewah senilai 4 juta dolar AS atau lebih ditandatangani antara 14 April hingga 10 Mei, naik 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tren ini terlihat semakin kuat di kalangan pembeli kelas supermewah. Penjualan apartemen dengan harga di atas 10 juta dolar AS melonjak hingga 80%. Meski demikian, broker properti dan para pemimpin bisnis tetap memperingatkan bahwa pajak tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap pasar.
“Pasar properti mewah di Manhattan tidak menunjukkan tanda-tanda melambat,” ujar Donna Olshan, Presiden Olshan Realty. “Jelas bahwa usulan pajak pied-à-terre tidak memberikan efek seperti yang diharapkan.”
Pajak yang pertama kali diusulkan oleh Wali Kota New York Zohran Mamdani dan Gubernur Kathy Hochul pada 15 April tersebut bertujuan mengenakan pungutan tahunan atas properti non-hunian utama di New York yang bernilai 5 juta dolar AS atau lebih. Para pendukungnya mengeklaim kebijakan ini dapat menghasilkan pendapatan tahunan sebesar 500 juta dolar AS dan memastikan bahwa penghuni paruh waktu “membayar bagian yang adil”.
Namun, para pengkritik berpendapat bahwa pajak tersebut akan mendorong para pembeli kaya pergi, memicu eksodus kekayaan yang pada akhirnya merugikan ekonomi lokal.
Para broker properti secara terbuka menentang pajak tersebut, dengan alasan kekhawatiran terhadap hilangnya lapangan kerja dan berkurangnya penerimaan pajak. Presiden Corcoran Group, Pamela Liebman, mengatakan kepada The Real Deal bahwa perusahaannya telah menunda beberapa transaksi sambil menunggu kejelasan mengenai dampak pajak tersebut.
Bahkan sejumlah pengkritik Wali Kota Mamdani juga menyoroti cara penyampaian usulan itu. CEO Citadel, Ken Griffin, menyebut video media sosial yang mengumumkan proposal tersebut sebagai tindakan yang “kurang pantas”.
Pengalaman Griffin sendiri kini turut dijadikan contoh oleh para pendukung pajak tersebut. Ia membeli sebuah apartemen di Miami seharga 238 juta dolar AS tahun lalu dan berjanji memperluas jumlah tenaga kerja di kota itu jika pajak tersebut diterapkan.
Pajak ini juga menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya, termasuk bagaimana menentukan nilai properti di New York dan menangani kekhawatiran terhadap sistem penilaian kota yang dianggap sudah usang.
Ketika perdebatan mengenai pajak ini terus berlangsung, satu hal menjadi jelas: pasar properti mewah Manhattan akan terus mencermati dengan penuh perhatian saat proposal tersebut diproses di lembaga legislatif.
Apakah pajak ini akan membuat kalangan elite kaya menjauh, atau justru meningkatkan pendapatan negara bagian? Hanya waktu yang akan menjawab.