Qaplo – Perang yang telah berlangsung selama 10 minggu di Timur Tengah membawa dunia ke ambang kekacauan, dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam langkah mengejutkan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan
Qaplo – Perang yang telah berlangsung selama 10 minggu di Timur Tengah membawa dunia ke ambang kekacauan, dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam langkah mengejutkan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya “tidak akan pernah tunduk kepada musuh,” sementara negosiasi mengenai kemungkinan kesepakatan damai masih terus berlangsung.
Amerika Serikat sebelumnya mengusulkan kompromi, yakni menawarkan pencabutan sanksi sebagai imbalan atas kerja sama Teheran terkait program nuklirnya. Namun, Iran menolak untuk mundur dan tetap menuntut ganti rugi perang serta kedaulatan penuh atas Selat Hormuz. Amerika Serikat menolak tuntutan tersebut dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima.”
Kebuntuan ini mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam karena para pelaku pasar khawatir konflik di kawasan tersebut akan semakin meluas. Selat Hormuz, jalur pelayaran penting dunia, masih ditutup, menyebabkan kapal-kapal tertahan dan pasokan terganggu.
Meski ada upaya untuk membangun kepercayaan antara Iran dan Qatar, pasar tetap bersikap waspada.
“Harga minyak masih sangat sensitif terhadap berita utama,” ujar Christopher Wong, ahli strategi mata uang di OCBC Bank. “Pasar berada di antara harapan de-eskalasi dan risiko bahwa bentrokan sporadis akan terus mempertahankan premi risiko energi dalam nilai tukar forex dan suku bunga.”
Situasi ini semakin kompleks karena banyak pihak berusaha memperebutkan pengaruh. Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu dengan Trump pada akhir pekan ini di Beijing, di mana perang Iran kemungkinan besar akan menjadi salah satu agenda utama. Washington berharap dapat menekan Beijing untuk mengambil tindakan, tetapi belum jelas apakah China akan mengambil sikap tegas.
Dalam upaya terakhir untuk menengahi perdamaian, Beijing sebelumnya telah menerima Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pekan lalu. Namun, tanpa solusi yang jelas, ketegangan terus meningkat. Seperti disampaikan seorang analis, “skenario dasar saat ini adalah détente yang terkendali dengan hasil yang mungkin terbatas,” yaitu perdamaian rapuh yang bisa saja tidak bertahan lama.
Situasi di lapangan tetap tidak stabil. Iran terus melancarkan serangan drone terhadap negara-negara tetangga di Teluk, sementara harga kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate AS melonjak hingga 100,3 dolar AS per barel.
Komunitas internasional kini menahan napas, menunggu apakah penyelesaian damai dapat dicapai sebelum semuanya terlambat.