Qaplo – Dunia bersiap menghadapi potensi guncangan pasokan energi setelah harga minyak global melonjak tajam pekan ini, dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur sempit strategis yang dilalui sekitar seperlima
Qaplo – Dunia bersiap menghadapi potensi guncangan pasokan energi setelah harga minyak global melonjak tajam pekan ini, dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur sempit strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, masih secara efektif tertutup, sehingga mengguncang pasar.
Data terbaru dari Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent ditutup di level 109,26 dolar AS per barel pada Jumat, naik 3,35% dari sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,2% menjadi 105,42 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut menutup pekan yang kuat bagi pasar minyak, dengan Brent menguat 7,87% dan WTI melesat 10,48%.
Pusat dari lonjakan harga ini adalah konflik Iran yang kini telah memasuki minggu kesepuluh. Meski upaya baru untuk perundingan damai antara Washington dan Teheran kembali dilakukan, proposal terbaru ditolak oleh kedua belah pihak, membuat kondisi Selat Hormuz tetap berada dalam ketidakpastian.
Situasinya masih sangat rawan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal Amerika sebagai “sampah” dan memperingatkan bahwa gencatan senjata masih rapuh. Sementara itu, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat dapat kembali mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz dengan dukungan angkatan laut dan udara, langkah yang berpotensi membantu menstabilkan jalur pelayaran.
Namun, analis pasar minyak memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz kemungkinan akan menimbulkan dampak luas. Badan Energi Internasional atau IEA telah memperingatkan bahwa persediaan minyak global dapat tetap mengalami kekurangan serius hingga Oktober, bahkan jika konflik berakhir bulan depan. Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di Teluk Persia telah berkurang 14,5 juta barel per hari akibat gangguan yang sedang berlangsung.
Kekhawatiran pasokan juga diperparah oleh ketegangan yang melibatkan Rusia. Perundingan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina kembali gagal menghasilkan terobosan. Serangan drone dan rudal Ukraina terus menargetkan infrastruktur energi Rusia, dengan setidaknya 30 kilang Rusia dilaporkan diserang selama sepuluh bulan terakhir.
Meski OPEC berencana menaikkan kuota produksi secara bertahap, kecemasan pasar tetap tinggi. Data persediaan Amerika Serikat menunjukkan kondisi pasokan yang ketat, dengan stok minyak mentah AS berada 0,3% di bawah rata-rata lima tahun dan persediaan distilat 9,4% di bawah level normal.
Krisis yang semakin meningkat ini membuat harga minyak rentan terhadap tekanan kenaikan lanjutan selama ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung. Seperti disampaikan seorang analis, premi risiko geopolitik kini telah tertanam kuat dalam harga minyak global, sehingga volatilitas kemungkinan tetap tinggi.
Apa Selanjutnya?
Ketika perkembangan di Timur Tengah terus berlangsung, investor dan konsumen akan mencermati setiap perubahan yang dapat memengaruhi harga minyak. Dengan ketegangan yang masih tinggi dan ancaman gangguan pasokan besar yang membayangi, prospek energi global tetap sangat tidak pasti.
Dalam lingkungan yang semakin kompleks ini, memahami faktor-faktor yang mendorong volatilitas harga minyak menjadi lebih penting dari sebelumnya. Selat Hormuz tetap menjadi salah satu jalur energi paling vital di dunia, dan setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat berdampak luas terhadap ekonomi global.
Untuk saat ini, harga minyak masih dibentuk oleh faktor fundamental yang selalu menggerakkan pasar, yaitu pasokan dan permintaan. Namun, dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, beberapa pekan ke depan dapat menjadi periode penting dalam menentukan arah pasar energi global.