Qaplo – Peringatan keras telah disampaikan NASA mengenai laju kenaikan permukaan laut yang semakin mengkhawatirkan dan mengancam fondasi sejumlah kota paling padat penduduk di dunia. Dampak dari kelambanan bertindak bisa sangat katastrofik,
Qaplo – Peringatan keras telah disampaikan NASA mengenai laju kenaikan permukaan laut yang semakin mengkhawatirkan dan mengancam fondasi sejumlah kota paling padat penduduk di dunia. Dampak dari kelambanan bertindak bisa sangat katastrofik, membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan memaksa lebih banyak lagi masyarakat mengungsi.
Indonesia, negara yang sudah rentan terhadap bencana alam, menjadi salah satu wilayah yang merasakan beratnya krisis ini. Ibu kota Jakarta mengalami penurunan tanah dengan laju yang mengkhawatirkan, yaitu sekitar 17 sentimeter per tahun, sehingga menjadikannya salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Kondisi geografis yang rendah dan sejarah wilayahnya sebagai daerah rawa semakin memperburuk masalah ini. Sebanyak 13 sungai besar mengalir menuju Laut Jawa, membuat hampir seluruh wilayah kota berisiko terdampak banjir dan kenaikan permukaan laut.
Situasi ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Kota-kota di berbagai belahan dunia menghadapi ancaman serupa. Miami, misalnya, berada di tepi Samudra Atlantik dengan ketinggian yang hanya sedikit di atas permukaan laut. Pada 2060, sekitar 60% wilayah kota tersebut diperkirakan berisiko terendam. Sementara itu, Lagos di Nigeria mengalami penurunan tanah lebih dari 7,6 sentimeter per tahun, dengan banjir yang semakin sering terjadi.
Garis pantai Bangkok menyusut lebih dari satu kilometer setiap tahun, dan sebagian besar wilayah kota diproyeksikan dapat menghilang dalam satu abad. Kolkata di India mengalami banjir parah pada 2024 yang membuat 250.000 orang mengungsi. Manila di Filipina juga mengalami penurunan tanah dengan laju jauh di atas rata-rata global akibat pengambilan air tanah dan kerusakan hutan bakau.
Krisis ini juga meluas ke luar Asia. Alexandria di Mesir dan Dhaka di Bangladesh menghadapi ancaman serius dari naiknya permukaan laut. Di Mesir, kawasan Delta Nil dapat terdampak parah, dengan proyeksi yang menunjukkan bahwa 30% wilayah Alexandria berpotensi terendam. Yangon di Myanmar menghadapi risiko tambahan karena kedekatannya dengan Sesar Sagaing yang aktif, sehingga meningkatkan kemungkinan penurunan tanah akibat gempa bumi.
Lalu, apa penyebab utama krisis ini? Singkatnya, perubahan iklim. Mencairnya lapisan es di kutub dan pemuaian termal air laut secara langsung berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut. Seperti disebutkan dalam sebuah laporan ilmiah, pemanasan global mempercepat pencairan es dan perluasan volume air laut, yang keduanya memperparah kenaikan permukaan samudra.
Dampak ekonominya akan sangat besar. Kerusakan dapat mencapai triliunan dolar karena banjir pesisir mengancam infrastruktur, bisnis, dan seluruh perekonomian kota. Bencana masa lalu, seperti banjir besar Jakarta pada 2007 yang menewaskan 80 orang dan membuat ratusan ribu orang mengungsi, menjadi gambaran nyata tentang ancaman yang mungkin terjadi di masa depan.
Namun, ini bukan hanya persoalan ekonomi. Ini adalah krisis kemanusiaan yang sedang terbentuk. Ratusan juta orang di seluruh dunia berpotensi kehilangan tempat tinggal, memaksa komunitas untuk berpindah dan mengubah struktur sosial wilayah pesisir secara mendasar.
Apa yang bisa dilakukan? Tanda-tanda peringatan telah terlihat selama beberapa dekade, dan kota seperti Jakarta menjadi contoh jelas dari mahalnya biaya akibat menunda tindakan. Keputusan Indonesia untuk memindahkan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN), yang dimulai pada 2022, merupakan respons besar dan berpandangan ke depan.
Meski demikian, relokasi saja tidak akan menyelesaikan masalah. Kota-kota di seluruh dunia harus bertindak sekarang dengan berinvestasi pada tanggul laut, memulihkan perlindungan alami pesisir, memperluas infrastruktur hijau, dan menerapkan perencanaan kota yang tahan terhadap perubahan iklim.
Waktu terus berjalan, tetapi masih ada kesempatan untuk mengubah arah. Biaya dari ketidakpedulian akan sangat besar. Sebaliknya, manfaat dari tindakan tegas dapat menyelamatkan jutaan nyawa dan menjaga masa depan sejumlah kota paling penting di dunia.
Sumber
- NASA
- Sciencing
- Laporan pemerintah Indonesia