Gedung Putih mengumumkan kesepakatan gencatan senjata lokal antara Rusia dan Ukraina di kota Oleshky, yang menurut pengumuman pada Jumat (23/10/2026) ikut dirancang oleh Ibu Negara AS Melania Trump. Gencatan senjata terbatas satu kota itu dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Oktober.
Meski demikian, Rusia menyatakan akan menghentikan tembakan lebih awal, yakni mulai pukul 04.00 waktu setempat pada 27 Oktober.
Krisis kemanusiaan di Oleshky
Oleshky, kota di garis depan perang yang diduduki Rusia di Ukraina selatan, kini menghadapi krisis kemanusiaan. Hanya sekitar 2.000 jiwa yang masih bertahan, turun drastis dari populasi sebelum perang yang mencapai sekitar 24.000 jiwa.
Kota itu telah diblokade sejak 2025 dan pertama kali diduduki saat Rusia melancarkan invasi besar-besaran pada Februari 2022. Oleshky terletak di Ukraina selatan, hanya 9 kilometer dari kota besar Kherson.
“Penduduk Oleshky yang tersisa sebagian besar adalah warga lanjut usia yang sangat membutuhkan perawatan medis, obat-obatan, makanan, dan air bersih. Mereka hidup dengan listrik terbatas, di tengah jalanan penuh ranjau, dan serangan militer yang terus berlangsung,” kata Melania Trump dalam pernyataannya.
Ombudsman hak asasi manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, berterima kasih kepada Ibu Negara AS atas tercapainya kesepakatan itu.
“Berdasarkan kesepakatan kami: pertama, gencatan senjata akan diberlakukan; kedua, bantuan kemanusiaan akan disalurkan ke Oleshky; dan ketiga, warga sipil diizinkan bergerak bebas keluar dari Oleshky,” ujar Lubinets dalam pesan video yang diunggah di Telegram. “Operasi ini akan berjalan bertahap dan sangat sulit dilaksanakan.”
Menurut Kantor Institusi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), warga Oleshky mengatakan pasukan pendudukan Rusia mencegah mereka meninggalkan kota. Warga juga menyebut Rusia menggunakan warga sipil sebagai perisai posisi militer — sebuah kejahatan perang menurut hukum humaniter internasional.
Perundingan lanjutan di Abu Dhabi
Kesepakatan Oleshky muncul di tengah rencana pertemuan para negosiator AS, Ukraina, dan Rusia di Abu Dhabi bulan depan untuk membahas pengakhiran perang.
“Rencananya bertemu pada paruh pertama November, dan sedini mungkin tentu saja,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada lembaga pemikir konservatif AS Hudson Institute.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada kantor berita negara Rusia TASS bahwa persiapan pertemuan tiga pihak pada pertengahan November tengah berjalan. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut keamanan akan menjadi topik utama pembicaraan di Abu Dhabi.
“Jelas bahwa arsitektur keamanan Eropa tidak bisa dibahas tanpa peserta lain,” tambah Peskov. Ia menyebut Rusia baru melihat Eropa dilibatkan dalam tahap selanjutnya. Sejumlah pemimpin Eropa, seperti Kanselir Jerman Friedrich Merz, menegaskan Eropa harus dilibatkan dalam perundingan damai Ukraina di masa depan.
Trump desak Zelenskyy berdamai
Presiden AS Donald Trump disebut makin frustrasi terhadap Zelenskyy dan menekan Ukraina untuk “membuat kesepakatan”. Trump juga menyalahkan Ukraina atas kenaikan harga solar di AS, di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz dan melambungkan biaya bahan bakar bagi konsumen Amerika.
Trump mendukung kesepakatan pembelian solar dari Rusia untuk menekan harga di pompa bensin — langkah yang menuai kritik dari Ukraina. Kremlin menyatakan pada Jumat bahwa kapal tanker pertama berisi solar Rusia telah berlayar menuju AS meski ada kecaman dari Kyiv.
Polemik Starshield
Di sisi lain, muncul kontroversi bahwa miliarder teknologi Elon Musk memerintahkan perlambatan sistem komunikasi militer Starshield yang diandalkan Ukraina — kemungkinan dengan restu Trump.
Trump membantah memerintahkan pembatasan Starlink dan membela Musk dalam pernyataannya kepada wartawan pada Jumat. “Elon tidak akan pernah melakukan sesuatu yang salah,” katanya.
Sementara itu, Zelenskyy dan pihak Ukraina menyatakan pada Jumat bahwa sistem tersebut masih dibatasi. “Sistemnya berjalan, tapi masih terbatas,” kata Zelenskyy kepada stasiun televisi AS ABC News.
Seorang sumber di Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan kepada kantor berita AFP dan sejumlah media lain bahwa warga Ukraina mengalami “beberapa kasus hilangnya sinyal” saat menggunakan Starshield. “Saat ini belum ada konfirmasi bahwa pembatasan telah dicabut,” kata sumber itu.
Sumber: DW News

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda