Qaplo.com – Situasi geopolitik di kawasan Laut China Selatan (LCS) kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln untuk melaksanakan patroli rutin. Langkah ini langsung menjadi perhatian dunia internasional karena kapal induk tersebut membawa jet tempur siluman F-35C Lightning II, yang dipandang sebagai sinyal tegas Washington terhadap ambisi maritim China.
Pada Rabu (7/1/2026), Angkatan Laut Amerika Serikat merilis sejumlah foto resmi yang memperlihatkan USS Abraham Lincoln sedang melakukan operasi penerbangan di wilayah perairan yang selama ini menjadi objek sengketa. Dalam pernyataannya, Angkatan Laut AS menegaskan bahwa pengerahan kapal induk ini bertujuan mencegah potensi agresi, memperkuat aliansi dan kemitraan regional, serta menjaga stabilitas kawasan melalui kekuatan militer yang kredibel.
Pengerahan ini berlangsung di tengah klaim sepihak China atas sebagian besar wilayah Laut China Selatan yang didasarkan pada konsep “hak sejarah”. Klaim tersebut tumpang tindih dengan kepentingan sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Filipina, yang memiliki perjanjian pertahanan dengan Amerika Serikat.
Menghadapi ekspansi maritim China—yang kini memiliki angkatan laut terbesar di dunia dari sisi jumlah kapal—Amerika Serikat secara konsisten mengirimkan kapal induk dan armada tempur ke kawasan tersebut. Kehadiran militer ini dimaksudkan untuk mempertahankan kebebasan navigasi internasional sekaligus memberikan jaminan keamanan kepada negara-negara sekutu.
Operasi berkelanjutan Angkatan Laut AS di Laut China Selatan sejalan dengan strategi keamanan nasional Washington, yang menekankan pentingnya membangun kapabilitas militer guna menangkal agresi di dalam kawasan strategis “Rantai Pulau Pertama”, yang mencakup Jepang, Taiwan, dan Filipina.
Gedung Putih menilai bahwa dominasi satu kekuatan atas Laut China Selatan dapat menjadi ancaman serius bagi keamanan global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu urusan perdagangan paling vital di dunia. Potensi pengenaan pungutan ilegal atau penutupan jalur pelayaran secara sepihak dinilai dapat mengganggu stabilitas ekonomi internasional.
USS Abraham Lincoln sendiri telah memulai penugasan sejak meninggalkan San Diego pada akhir November lalu. Selama patroli di LCS, kapal induk ini mengoperasikan berbagai alutsista canggih, mulai dari jet tempur siluman F-35C Lightning II, F/A-18E/F Super Hornet, hingga pesawat serangan elektronik EA-18G Growler.
Komandan gugus tempur, Laksamana Muda Todd Whalen, menegaskan bahwa kehadiran USS Abraham Lincoln yang dikawal oleh tiga kapal perusak—USS Spruance, USS Michael Murphy, dan USS Frank E. Petersen Jr.—menunjukkan komitmen nyata Amerika Serikat dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
“Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tengah menjalankan operasi rutin di wilayah Armada Ketujuh AS. Armada ini secara konsisten bekerja sama dengan sekutu dan mitra untuk memastikan stabilitas dan keamanan Indo-Pasifik,” demikian pernyataan resmi Angkatan Laut AS, dikutip dari The Associated Press.
Meski saat ini fokus pada kawasan Asia-Pasifik, masa depan penugasan USS Abraham Lincoln masih menjadi sorotan. Sejumlah pengamat berspekulasi kapal induk ini dapat dialihkan ke Timur Tengah, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang membuka kemungkinan intervensi terhadap Iran jika kekerasan terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut.
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri China belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait kehadiran USS Abraham Lincoln di Laut China Selatan. Namun, pengerahan ini diyakini akan semakin memperpanjang daftar gesekan geopolitik antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, khususnya dalam isu kedaulatan maritim dan kebebasan navigasi di Pasifik Barat.






