Qaplo.com – Jagat maya internasional pernah dibuat terpukau sekaligus terkecoh oleh sebuah unggahan viral dari Étienne Klein, fisikawan ternama asal Prancis. Pada Juli 2022, Klein membagikan sebuah gambar yang diklaim sebagai potret spektakuler bintang Proxima Centauri hasil tangkapan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA. Visual tersebut menampilkan objek bulat kemerahan dengan tekstur detail yang tampak sangat ilmiah, berlatar belakang hitam pekat khas citra kosmik.
Unggahan itu langsung menyebar luas, menuai pujian, dan dibagikan jutaan kali. Banyak warganet, termasuk pencinta sains dan astronomi, memujinya sebagai salah satu keajaiban alam semesta yang berhasil diabadikan teknologi manusia.
Namun, euforia tersebut runtuh hanya dalam hitungan hari.
Étienne Klein kemudian mengungkap fakta mengejutkan: objek yang disebut sebagai bintang Proxima Centauri itu sama sekali bukan benda langit. Gambar tersebut ternyata hanyalah foto close-up sepotong sosis chorizo, sosis khas Spanyol, yang diletakkan di atas permukaan meja gelap. Tidak ada teleskop. Tidak ada luar angkasa. Hanya sosis.
Klein menjelaskan bahwa unggahan itu merupakan sebuah eksperimen sosial sekaligus candaan untuk menguji sejauh mana daya kritis publik di era digital yang dipenuhi informasi palsu, manipulasi visual, dan hoaks yang sulit dibedakan dari fakta.
Meski diklaim sebagai satire edukatif, aksi ini justru memicu kritik keras. Banyak kalangan menilai tindakan tersebut berbahaya karena berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap dunia sains, terutama di tengah meningkatnya skeptisisme global terhadap ilmuwan, lembaga riset, dan institusi akademik.
Kasus yang kemudian dikenal sebagai “sosis luar angkasa” ini menjadi contoh nyata betapa visual yang meyakinkan dapat mengalahkan logika dan proses verifikasi, bahkan ketika informasi tersebut berasal dari sosok dengan reputasi ilmiah tinggi.
Pelajaran penting dari insiden ini sangat tegas: gelar akademik, jabatan prestisius, atau nama besar bukan jaminan kebenaran informasi. Di era digital yang serba cepat, setiap individu dituntut memiliki literasi media dan nalar kritis yang kuat. Jangan mudah terpukau oleh tampilan canggih, istilah ilmiah, atau label “luar angkasa” tanpa melakukan pengecekan fakta.
Sebab jika tidak, kecerdasan publik bisa lumpuh hanya karena satu foto—yang ternyata bukan bintang di langit, melainkan sepotong sosis di atas meja makan. Verifikasi adalah benteng terakhir agar kita tidak menjadi korban tipuan global berikutnya.







